Mantap! Harga CPO Menguat
JAKARTA, investor.id - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives menguat pada perdagangan Selasa (6/12/2022).
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Selasa (6/12/2022), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Desember 2022 menguat 136 Ringgit Malaysia menjadi 4.039 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Januari 2023 meningkat 136 Ringgit Malaysia menjadi 4.63 Ringgit Malaysia per ton.
Sementara itu, kontrak pengiriman Februari 2023 naik 127 Ringgit Malaysia menjadi 4.094 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Maret 2023 terkerek 132 Ringgit Malaysia menjadi 4.125 Ringgit Malaysia per ton.
Serta, kontrak pengiriman April 2023 menguat 138 Ringgit Malaysia menjadi 4.122 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Mei 2023 terdongkrak 145 Ringgit Malaysia menjadi 4.101 Ringgit Malaysia per ton.
Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan, pelaku pasar tengah menanti data ekspor CPO Malaysia untuk periode awal Desember, perkembangan situasi di Indonesia terkait kebijakan ekspor CPO, perkembangan situasi Covid-19 di Tiongkok, dan juga situasi pasar minyak nabati.
Selain itu, lanjut Yoga, saat ini uji coba untuk biodiesel B40 telah memasuki tahap akhir. Dari berita ini mengindikasikan potensi peningkatan program mandatori biodiesel yang berjalan saat ini, dan kemungkinan dapat dilakukan pada tahun depan. Untuk dampaknya sendiri tentu akan menjadi katalis positif bagi harga CPO.
“Karena artinya akan terjadi peningkatan konsumsi dalam negeri, dan sekaligus pengurangan volume ekspor Indonesia dalam bentuk CPO ke pasar global,” jelas Yoga.
Yoga menyebut, hingga akhir tahun, kemungkinan harga CPO akan menemui level resistance di kisaran harga 4.700 – 5.000 Ringgit Malaysia per ton. Apabila mendapat katalis negatif, maka harga berpotensi turun menuju level support di kisaran harga 3.500 – 3.200 per ton.
Lebih lanjut Yoga menjelaskan, harga CPO juga dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak kedelai. Hal ini melihat dari situasi Covid-19 di Tiongkok yang sudah menunjukkan tanda-tanda mereda, maka ada kemungkinan akan menjadi pendongkrak untuk penguatan harga minyak kedelai.
“Untuk indikator yang dipantau adalah situasi Covid-19 di Tiongkok, situasi jalur pelayaran Laut Hitam, dan situasi pasar CPO,” tambahnya.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






