Jumat, 15 Mei 2026

Duh, Harga CPO Anjlok

Penulis : Indah Handayani
13 Des 2022 | 05:00 WIB
BAGIKAN
Seorang pekerja membongkar tandan buah kelapa sawit di sebuah pabrik di Tanjung Karang, Malaysia pada 14 Agustus 2020. (Foto: REUTERS/Lim Huey Teng/Files)
Seorang pekerja membongkar tandan buah kelapa sawit di sebuah pabrik di Tanjung Karang, Malaysia pada 14 Agustus 2020. (Foto: REUTERS/Lim Huey Teng/Files)

JAKARTA, investor.id - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives anjlok pada perdagangan Senin (12/12/2022). Membalikan keuntungan yang terjadi pada perdagangan Jumat (9/12/2022).

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Senin (12/12/2022), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Desember 2022 turun 246 Ringgit Malaysia menjadi 3.678 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Januari 2023 merosot 246 Ringgit Malaysia menjadi 3.702 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak pengiriman Februari 2023 anjlok 258 Ringgit Malaysia menjadi 3.737 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Maret 2023 terkoreksi 268 Ringgit Malaysia menjadi 3.764 Ringgit Malaysia per ton.

ADVERTISEMENT

Serta, kontrak pengiriman April 2023 melemah 268 Ringgit Malaysia menjadi 3.767 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Mei 2023 turun 247 Ringgit Malaysia menjadi 3.778 Ringgit Malaysia per ton.

Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan, sepekan ke depan, harga CPO akan bergantung pada indikator pasar yang akan dirilis . Indikator yang dipantau antara lain rilisnya data ekspor CPO Malaysia untuk paruh pertama Desember, perkembangan situasi di Indonesia terkait kebijakan ekspor CPO, situasi di negara importir utama dan situasi di pasar minyak nabati.

“Untuk level resistance di kisaran harga 4.100 – 4.250 Ringgit Malaysia per ton, dan apabila mendapat katalis negatif, maka harga berpotensi turun ke level support di 3.900 – 3.750 Ringgit Malaysia per ton,” ungkap Yoga kepada Investor Daily, belum lama ini.

Yoga memperkirakan permintaan dari Tiongkok berpotensi meningkat seiring dengan membaiknya situasi Covid-19 serta persiapan stok menyambut perayaan Tahun Baru China. Ditambah lagi, India yang baru-baru ini memutuskan untuk memperpanjang bea masuk gratis untuk CPO hingga akhir Desember, juga berpotensi mendongkrak kenaikan permintaan.

“Meski demikian, permintaan dari Uni Eropa berpotensi menurun akibat pemberlakuan undang-undang larangan impor untuk komoditas terkait deforestasi, termasuk CPO,” tambahnya.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 8 menit yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 18 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 1 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 1 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia