Hadapi Transisi Energi, Begini Kiat Bukit Asam (PTBA) Pertahankan Pertumbuhan
JAKARTA, Investor.id - PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) memiliki cadangan batu bara yang belum termonetisasi sebanyak 3 miliar ton dengan tingkat produksi 35 juta ton per tahun. Namun, perseroan dihadapkan pada tren industri yang menuju transisi energi baru terbarukan (EBT). Bagaimana PTBA menjawab tantangan tersebut?
Baca Juga:
Bos Indika (INDY): 2022, Luar Biasa!VP Pengembangan Hilirisasi Bukit Asam Setiadi Wicaksono menyampaikan bahwa dalam konteks tren transisi energi dan kaitannya dengan industri batu bara, perseroan mencermati adanya empat faktor utama.
Pertama, faktor siklus perekonomian global yang bakal mendorong permintaan baru bara relatif berasal dari negara-negara berkembang dalam jangka panjang. Kedua, arah net zero emission (NZE) yang akan memicu permintaan komoditas batu bara turun.
Sementara faktor berikutnya mengenai revolusi energi yang membuat porsi EBT ke depan lebih signifikan sehingga berimbas langsung pada penurunan batu bara. Faktor terakhir adalah soal ESG.
Menurut Setiadi, faktor ESG kini sangat penting mengingat berurusan dengan pendanaan di mana kreditur global sudah menghindari jenis investasi yang tidak ramah lingkungan.
Menghadapi tantangan industri dan target perseroan memonetisasi cadangan batu bara 3 miliar ton, PTBA pun menyiapkan rencana jangka panjang yang terdiri dari empat pilar. Pilar pertama berhubungan dengan bisnis batu bara, sedangkan tiga pilar lainnya menyangkut upaya perseroan dalam menuju transisi energi.
Setiadi menjelaskan, pada pilar pertama, PTBA akan meningkatkan kapasitas seiring dengan masih banyaknya cadangan batu bara yang belum termonetisasi di site-site perseroan. "Jadi, kalau kita lihat 2060 sudah fase out NZE, sementara cadangan kita masih banyak. Jadi, mau tidak mau kita harus tingkatkan kapasitas produksi," ucapnya di acara E2S Outlook Sektor ESDM 2023 & E2S Awards 2022, Selasa (13/12).
Karena itu, PTBA menargetkan adanya peningkatan kapasitas angkutan batu bara di Tanjung Enim menjadi double capacity pada tahun 2027.
Pilar kedua, fokus pada transisi energi. Anggota Holding BUMN Industri Pertambangan ini mengaku sudah mulai merambah ke segmen renewable energy salah satunya dengan membangun PLTS di lahan-lahan pascatambang perseroan.
"Terkait pilar energi, beberapa proyek juga sedang kami kembangkan. Pertama, PLTS lahan pasca tambang yang ada di beberapa site kalau kita totalkan sisi luas area dan potensial megawatt bisa mencapai 430 megawatt sedang dalam fase studi kelayakan dan harus kita sampaikan ke PLN mudah2an bisa ada respons baik dari PLN," jelas Setiadi.
Lebih jauh, perseroan juga tengah mengembangkan PLTU Mulut Tambang-Sumsel 8 yang saat ini progresnya sudah mencapai 97% dan diekspektasikan dapat beroperasi komersial (commercial operation date/(COD)) pada tahun depan. Sedangkan, untuk PLTS atap, kita bersinergi dengan AP II di Bandara Soetta, begitu juga PLTS jalan tol melalui sinergi dengan PT Jasa Marga Tbk.
Pilar ketiga adalah soal kimia terutama berkaitan dengan Coal-to-DME sebagai alternatif LPG seperti yang dikampanyekan pemerintah. Setiadi memastikan, perseroan saat ini terus berproses menuju ke sana dengan membangun sentra industri berbasis hilirisasi energi. Dirinya pun berharap, melalui proyek tersebut PTBA dapat berkontribusi menekan subsidi impor LPG yang nilainya cukup fantastis.
Adapun pilar yang terakhir soal manajemen karbon, Setiadi mengatakan bahwa perseroan juga melakukan dekarbonisasi pertambangan lewat pemanfaatan kendaraan penambangan berbasis listrik.
Hal ini sekaligus membuktikan bahwa perseroan berupaya untuk berkontribusi menangkap emisi karbon dan mengurangi emisi karbon. Termasuk menerapkan e-mining reporting system sehingga turut mendorong efisiensi terhadap konsumsi BBM sampai 10,8 juta liter.
"Dari inisiatif-inisiatif ini, estimasi pengehmatan yang kami lakukan untuk konsumsi BBM mencapai 10,8 juta liter per tahun. Ini nilai yang cukup tinggi untuk penghematan bensin dan secara otomatis akan memberi efisiensi dari sisi biaya," pungkas Setiadi.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Tag Terpopuler
Terpopuler






