Harga CPO Naik Dua Hari Beruntun
JAKARTA, investor.id - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives menguat pada perdagangan Rabu (14/12/2022). Dengan demikian, harga CPO naik dalam dua hari beruntun. Setelah pada perdagangan Selasa (13/12/2022) harga CPO juga mengalami kenaikan.
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Rabu (14/12/2022), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Desember 2022 naik 59 Ringgit Malaysia menjadi 3.885 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Januari 2023 meningkat 59 Ringgit Malaysia menjadi 3.909 Ringgit Malaysia per ton.
Baca Juga:
Harga CPO Berbalik MenguatSementara itu, kontrak pengiriman Februari 2023 terkerek 64 Ringgit Malaysia menjadi 3.950 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Maret 2023 menguat 65 Ringgit Malaysia menjadi 3.968 Ringgit Malaysia per ton.
Serta, kontrak pengiriman April 2023 bertambah 60 Ringgit Malaysia menjadi 3.964 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Mei 2023 terdongkrak 49 Ringgit Malaysia menjadi 3.947 Ringgit Malaysia per ton.
Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan, permintaan dari Tiongkok berpotensi meningkat seiring dengan membaiknya situasi Covid-19 serta persiapan stok menyambut perayaan Tahun Baru China. Ditambah lagi, India yang baru-baru ini memutuskan untuk memperpanjang bea masuk gratis untuk CPO hingga akhir Desember, juga berpotensi mendongkrak kenaikan permintaan.
“Meski demikian, permintaan dari Uni Eropa berpotensi menurun akibat pemberlakuan undang-undang larangan impor untuk komoditas terkait deforestasi, termasuk CPO,” tambahnya.
Baca Juga:
Produktivitas dan Hilirisasi SawitTidak hanya itu, lanjut Yoga, pekan ini harga minyak kedelai berpotensi bergerak pada tren bullish. Untuk sentimen yang mempengaruhi antara lain gangguan cuaca di negara produsen utama seperti Argentina yang mengalami kekeringan, meningkatnya permintaan dari Tiongkok seiring dengan membaiknya situasi Covid-19 di negara importir kedelai terbesar pertama dunia itu, dan situasi di pasar CPO.
“Untuk level resistance di kisaran harga US$ 65 - 70 per pounds, dan apabila mendapat katalis negatif, maka harga berpotensi turun ke level support di US$ 55 - 50 per pounds,” tutup Yoga.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Tag Terpopuler
Terpopuler






