Harga CPO Turun Lagi
JAKARTA, investor.id - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives turun lagi pada perdagangan Jumat (23/12/2022). Dengan demikian, harga CPO mengalami pelemahan dalam dua hari beruntun. Hal ini terjadi diperkirakan akibat pelemahan permintaan dari negara pengimpor utama CPO, yaitu India dan Tiongkok.
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Jumat (23/12/2022), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Januari 2023 melemah 61 Ringgit Malaysia menjadi 3.802 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Februari 2023 turun 66 Ringgit Malaysia menjadi 3.820 Ringgit Malaysia per ton.
Baca Juga:
Permintaan Pasar Lesu, Harga CPO MerosotSementara itu, kontrak pengiriman Maret 2023 terkoreksi 68 Ringgit Malaysia menjadi 3.830 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman April 2023 jatuh 61 Ringgit Malaysia menjadi 3.833 Ringgit Malaysia per ton.
Serta, kontrak pengiriman Mei 2023 terkikis 54 Ringgit Malaysia menjadi 3.830 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Juni 2023 menurun 57 Ringgit Malaysia menjadi 3.815 Ringgit Malaysia per ton.
Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan, harga CPO dipengaruhi oleh pelemahan permintaan dari negara pengimpor utama CPO, yaitu India dan Tiongkok. Umumnya saat memasuki musim dingin di akhir tahun, negara importir utama CPO cenderung mengurangi permintaan CPO dan mengalihkan ke minyak nabati, di mana hal ini disebabkan karena karakteristik dari CPO yang mudah mengeras di suhu dingin.
“Melihat dari situasi tersebut, besar kemungkinan sinyal bearish permintaan akan terus berlanjut hingga akhir tahun, terlebih dengan adanya prediksi dari para ahli bahwa musim dingin tahun ini akan lebih dingin dari biasanya,” ungkap Yoga kepada Investor Daily, belum lama ini.
Yoga memperkirakan, lonjakan permintaan CPO jelang berlangsungnya perayaan Tahun Baru China memang sudah menjadi tren tahunan. Namun, dengan prediksi bahwa musim dingin tahun ini akan lebih dingin dari biasanya, maka kemungkinan peningkatan permintaan baru akan dilakukan saat awal tahun depan, ketika musim dingin sudah mulai mereda.
Tidak hanya itu, lanjut Yoga, harga CPO juga dipengaruhi oleh perkembangan situasi di Malaysia khususnya terkait bencana banjir yang saat ini melanda negara produsen CPO terbesar kedua dunia itu. Bencana banjir yang terjadi saat ini merupakan dampak dari cuaca La Nina, yang diperkirakan akan mereda efeknya pada awal tahun 2023.
“Sehingga, dapat disimpulkan di sini untuk kekhawatiran akan pasokan kemungkinan akan terus bertahan hingga akhir tahun nanti,” jelas Yoga.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






