Badai Elliott Hantam Pasar Energi AS, Harga Minyak Ikut Terangkat
JAKARTA, investor.id - Harga minyak Selasa pagi (27/12/2022) terpantau bergerak bullish. Didukung oleh beberapa sentimen positif antara lain gangguan pasokan di pasar energi AS akibat badai salju yang mematikan, pencabutan aturan karantina Covid-19 di Tiongkok, dan potensi berlanjutnya konflik Ukraina hingga tahun depan.
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, ancaman badai salju Elliott yang melanda AS dan telah mematikan listrik dan memangkas produksi energi pada hari Jumat semakin meningkat. Maskapai AS membatalkan hampir 2.700 jadwal penerbangan pada Sabtu sore, ungkap situs pelacakan penerbangan FlightAware.
Baca Juga:
Pasar AS Libur, Minyak Bergerak DatarSelain itu, badai juga telah melumpuhkan kota New York bagian barat selama akhir pekan Natal dan menewaskan 27 korban di Buffalo dan seluruh Erie County pada Senin, naik dari 13 korban pada malam sebelumnya, ungkap pejabat setempat. “Situasi tersebut memicu kekhawatiran akan mengganggu proses logistik dan produksi minyak di AS, sementara di saat yang sama juga turut mendorong peningkatan permintaan bahan bakar pemanas dan listrik,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Selasa (27/12/2022).
Tim Research and Development ICDX menambahkan, turut mendukung pergerakan harga minyak, pemerintah Tiongkok kembali melakukan langkah besar dalam mengurangi pembatasan Covid, dengan membatalkan aturan karantina Covid bagi turis yang masuk ke negaranya mulai 8 Januari mendatang, ungkap Komisi Kesehatan Nasional pada Senin (26/12/2022).
Selain itu, Tim Research and Development ICDX menyebut, tindakan penanganan Covid juga diturunkan ke Kategori B yang tidak terlalu ketat, dari Kategori A yang merupakan tingkat teratas saat ini. Warga di dua kota terbesar Tiongkok yaitu Beijing dan Shanghai, mulai kembali bekerja yang terlihat dari penumpang yang memadati kereta bawah tanah pada Senin (26/12/20222).
Tim Research and Development ICDX mengatakan, sentimen positif lainnya juga datang dari konflik Ukraina saat ini yang berpotensi meningkat lebih lanjut pada 2023. Setelah Rusia dan Ukraina dilaporkan saling menuduh satu sama lain tidak memiliki ketulusan dalam upaya negosiasi untuk mengakhiri konflik. Bahkan, Ukraina dilaporkan telah menyerang dengan sebuah drone dan menyebabkan ledakan mematikan di pangkalan utama pembom strategis Moskow, tepat sehari setelah Presiden Vladimir Putin menyatakan siap untuk melakukan negosiasi.
Sementara itu, tensi antara Tiongkok dan AS berpotensi meningkat sehubungan dengan dukungan AS terhadap Taiwan. Kantor Presiden Taiwan Tsai Ing-wen berencana melakukan pertemuan keamanan nasional pada Selasa pagi untuk membahas penguatan pertahanan sipil, termasuk reformasi militer dengan memperpanjang wajib militer dan memperkenalkan instruksi tempur yang digunakan pasukan AS, ujar sumber yang terlibat dalam diskusi tersebut. Dewan Keamanan Nasional AS pada hari Senin menyatakan komitmen akan terus membantu Taiwan dalam jangka panjang.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 84 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 76 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






