Minyak Stabil Karena Sentimen-sentimen Ini
HOUSTON, investor.id - Harga minyak stabil pada perdagangan Selasa (27/12/2022). Setelah mencapai tertinggi tiga minggu. Hal ini karena sentimen-sentimen yang imbang, yaitu kembali beroperasinya beberapa pembangkit energi AS yang ditutup oleh badai musim dingin yang mengimbangi kenaikan yang berasal dari harapan pemulihan permintaan karena Tiongkok melonggarkan pembatasan Covid-19.
Minyak mentah Brent naik 41 sen (0,5%) menjadi US$ 84,33 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 3 sen menjadi US$ 79,53 per barel. Kedua tolok ukur mencapai level tertinggi sejak 5 Desember di awal sesi. Pasar Inggris dan AS ditutup pada Senin (28/12/2022) untuk liburan Natal.
Kilang di sepanjang Pantai Teluk mulai melanjutkan operasi dan meningkatkan produksi setelah ledakan Arktik mengirimkan suhu jauh di bawah titik beku dan menyebabkan hilangnya daya, instrumentasi, dan uap di fasilitas di sepanjang Pantai Teluk AS. Musim dingin juga memotong produksi minyak dan gas dari North Dakota ke Texas.
Produksi sekitar 450 ribu -500 ribu barel minyak per hari dibatasi selama akhir pekan Natal di ladang minyak Bakken, kata Otoritas Pipa Dakota Utara, menambahkan operator bekerja dengan cepat untuk memulihkan produksi yang hilang.
Baca Juga:
Pasar AS Libur, Minyak Bergerak Datar"Cuaca AS diperkirakan membaik minggu ini, yang berarti reli mungkin tidak akan berlangsung terlalu lama," kata Kazuhiko Saito, kepala analis di Fujitomi Securities.
Tiongkok akan berhenti mewajibkan pelancong masuk untuk melakukan karantina, mulai 8 Januari, Komisi Kesehatan Nasional mengatakan pada Senin (26/12/2022) dalam langkah besar menuju pelonggaran pembatasan di perbatasan yang sebagian besar telah ditutup sejak 2020.
"Ini tentu sesuatu yang diharapkan oleh para pedagang dan investor," kata analis Avatrade Naeem Aslam.
Presiden Rusia Vladimir Putin pada Selasa (27/12/2022) juga menandatangani dekrit yang melarang memasok minyak dan produk minyak ke negara-negara yang berpartisipasi dalam pembatasan harga mulai 1 Februari selama lima bulan. Kekhawatiran atas kemungkinan pemotongan produksi oleh Rusia juga memberikan dukungan harga.
Rusia mungkin memangkas produksi minyak sebesar 5% hingga 7% pada awal 2023 sebagai tanggapan terhadap pembatasan harga, kantor berita RIA mengutip Wakil Perdana Menteri Alexander Novak mengatakan pada Jumat (23/12/2022).
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






