Harga Minyak Terbebani Kekhawatiran Terganggunya Aktifitas Perjalanan di Tiongkok
JAKARTA, investor.id - Harga minyak Rabu pagi (4/1/2023) terpantau bergerak bearish dibebani oleh sentimen dari ekonomi Tiongkok yang berpotensi menemui hambatan pasca semakin banyak negara yang menerapkan tes Covid bagi turis dari Tiongkok. Selain itu, kondisi permintaan di pasar energi domestik Tiongkok yang sedang lesu juga turut membatasi pergerakan harga lebih lanjut.
Tim Research and Development menjelaskan, dalam pertemuan Komite Keamanan Kesehatan yang berlangsung pada hari Selasa, Komisi Eropa menyatakan bahwa sebagian besar negara Uni Eropa (UE) mendukung usulan untuk melakukan tes Covid pra-keberangkatan bagi turis dari Tiongkok. Selain itu Komisi Eropa juga menyiapkan draft proposal yang berisi berbagai rekomendasi dan persyaratan ketat yang menargetkan rute penerbangan dari Tiongkok dan juga peningkatan pemantauan di bandara.
“Sikap dari UE tersebut menyusul langkah serupa yang telah diterapkan oleh AS, Prancis, Italia, Qatar, Korea Selatan dan sejumlah negara lainnya, berpotensi menghambat aktifitas perjalanan via udara pasca Tiongkok mencabut kebijakan Covid secara penuh pada 8 Januari mendatang,” tulis Tim Research and Development dalam risetnya, Rabu (4/1/2023).
Tim Research and Development menambahkan, menanggapi aksi penerapan pengujian Covid yang diisyaratkan oleh beberapa negara terhadap turis dari Tiongkok, juru bicara kementerian luar negeri Tiongkok, Mao Ning, pada Selasa (4/1/2023) menyatakan bahwa tindakan tersebut tidak berdasar dan tidak masuk akal. Selain itu, Tiongkok secara tegas menentang praktik semacam itu, dan akan mengambil tindakan balasan, tambahnya.
Tim Research and Development menjelaskan, turut membatasi pergerakan harga lebih lanjut, pemerintah Tiongkok pada hari Selasa memutuskan untuk meningkatkan kuota ekspor gelombang pertama tahun 2023 untuk produk minyak sulingan seperti bensin, solar dan bahan bakar jet, menjadi sebesar 18.99 juta ton atau hampir setengahnya dibanding kuota tahun lalu di angka 13 juta ton.
“Keputusan tersebut mengindikasikan bahwa permintaan di pasar domestik negara importir minyak terbesar pertama dunia itu sedang lesu,” tambah Tim Research and Development.
Tim Research and Development menyebut, untuk indikator yang dipantau pasar dalam waktu dekat adalah laporan persediaan minyak mentah AS versi grup industri yang akan dirilis oleh American Petroleum Institute (API) pada hari Rabu pukul 16.30 EDT (20.30 GMT), dan disusul oleh versi pemerintah yang dirilis pada hari Kamis pukul 10.30 pagi (14.30 GMT). Kedua laporan tersebut dirilis lebih lambat dari biasanya karena berlangsungnya libur Tahun Baru pada awal pekan.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 80 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 74 per barel,” tutup Tim Research and Development.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






