Penutupan Jalur Pipa Colonial Dorong Minyak Kembali Bangkit
JAKARTA, investor.id - Pada penutupan pekan pagi ini (6/1/2023), harga minyak terpantau bergerak bullish di dorong oleh beberapa sentimen positif antara lain laporan stok bensin EIA, penutupan jalur pipa Colonial, dan potensi peningkatan aktifitas perjalanan di Tiongkok hingga dua kali lipat saat liburan Tahun Baru Imlek mendatang.
Tim Research and Development menjelaskan, dalam laporan mingguan yang dirilis Kamis malam oleh badan statistik pemerintah AS, Energy Information Administration (EIA), menunjukkan stok minyak mentah meningkat sebesar 1.69 juta barel. Meski demikian, untuk stok bensin dan minyak sulingan turun masing-masing sebesar 346 ribu barel dan 1.43 juta barel.
“Laporan EIA tersebut mengindikasikan konsumsi bahan bakar yang menguat di pasar energi AS menyusul badai musim dingin yang melanda AS pada akhir tahun kemarin,” tulis Tim Research and Development dalam risetnya, Jumat (6/1/2023).
Masih dari AS, Tim Research and Development menyebut, operator jalur pipa Colonial pada Rabu (4/1/2023) mengumumkan penutupan jalur tiga untuk pemeliharaan hingga 7 Januari, akibat kebocoran yang saat ini masih dalam pemantauan oleh Administrasi Keselamatan Pipa dan Bahan Berbahaya Departemen Perhubungan AS (PHMSA). Jalur 3 yang memasok bensin dan minyak sulingan dari North Carolina ke New Jersey ini memiliki kapasitas 885 ribu bph.
Tim Research and Development menambahkan, turut mendukung pergerakan harga, Tiongkok memperkirakan jumlah total perjalanan penumpang baik melalui jalur darat, kereta api, kapal laut, maupun penerbangan selama liburan Tahun Baru Imlek mendatang dapat mencapai 2,1 miliar, atau dua kali lipat dari periode yang sama pada tahun 2022 di angka 1,05 miliar.
Dari aktifitas perjalanan via udara, jadwal penerbangan harian selama liburan 40 hari yang dimulai hari Sabtu nanti, dilaporkan mencapai rata-rata sekitar 11 ribu penerbangan, atau sekitar 73% dari tingkat penerbangan pada 2019 sebelum Covid, ungkap pejabat lalu lintas Tiongkok pada hari Jumat.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan India pada hari Kamis melaporkan penemuan 11 varian Covid pada turis asing yang tiba di India selama periode 24 Desember hingga 3 Januari. Berita tersebut memicu kekhawatiran akan mendorong aksi pembatasan baru di negara importir minyak mentah terbesar ketiga dunia itu.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 77 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 71 per barel,” tutup Tim Research and Development.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






