Harga Minyak Meredup Tertekan Prospek Resesi Global Menguat
JAKARTA, investor.id - Harga minyak Selasa pagi (17/1/2023) terpantau bergerak bearish. Tertekan ketidakpastian prospek ekonomi global yang kian menguat pasca rilisnya hasil survei WEF dan proyeksi negatif pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Meski demikian, potensi eskalasi konflik Ukraina memberikan dukungan pada harga minyak.
Baca Juga:
Harga Minyak Berpotensi MelemahTim Research and Development ICDX menjelaskan, dalam pertemuan hari pertama World Economic Forum (WEF) yang berlangsung pada Senin (16/1/2023), sekitar 18% dari total kepala ekonom sektor swasta dan publik yang hadir memperkirakan resesi global sangat mungkin terjadi tahun ini. Keyakinan tersebut meningkat dua kali lipat dibanding survei WEF sebelumnya yang dilakukan pada September 2022.
“Hasil survei WEF merupakan tanggapan dari 22 ekonom senior dari berbagai lembaga internasional termasuk Dana Moneter Internasional, bank investasi, perusahaan multinasional dan kelompok reasuransi,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Selasa (17/1/2023).
Tim Research and Development ICDX menambahkan, turut membebani pergerakan harga lebih lanjut, perekonomian Tiongkok diperkirakan akan melambat tajam di kuartal IV, menyeret pertumbuhan ekonomi negara importir minyak terbesar pertama dunia itu di sepanjang tahun 2022 turun ke salah satu tingkat terendah dalam hampir setengah abad. Pertumbuhan PDB Tiongkok pada kuartal IV yang akan dirilis pada 17 Januari pukul 02.00 GMT, diprediksi akan melambat menjadi 1,8%, dibanding pertumbuhan di kuartal III yang mencapai 3,39%.
“Bank Sentral Tiongkok diperkirakan akan terus melonggarkan kebijakan tahun ini, memompa lebih banyak likuiditas dan menurunkan biaya pendanaan untuk bisnis, sementara pemerintah daerah cenderung akan merilis lebih banyak stimulus untuk mendanai proyek infrastruktur,” tambah Tim Research and Development ICDX.
Baca Juga:
Harga Minyak Tergelincir Hingga 1%Sementara itu, Tim Research and Development ICDX menyebut, kondisi konflik di Ukraina berpotensi meningkat lebih lanjut pasca kantor berita TASS pada hari Senin malaporkan bahwa Rusia telah memproduksi set pertama torpedo super berkemampuan nuklir yang diberi nama Poseidon, dan rencananya akan ditempatkan di kapal selam nuklir Belgorod. Poseidon pertama kali diumumkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin pada tahun 2018.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 82 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 77 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Tag Terpopuler
Terpopuler






