Jumat, 15 Mei 2026

Emas Menguat di Tengah Ekspektasi Perlambatan Kenaikan Suku Bunga Fed

Penulis : Indah Handayani
21 Jan 2023 | 08:30 WIB
BAGIKAN
ilustrasi emas, Sumber: Antara
ilustrasi emas, Sumber: Antara

CHICAGO, investor.id - Harga emas menguat pada akhir perdagangan Jumat (20/1/2023). Memperpanjang kenaikan untuk hari kedua berturut-turut dan mempertahankan kilaunya selama lima minggu beruntun karena Federal Reserve (Fed) diperkirakan akan memperlambat kenaikan suku bunganya.

Kontrak harga emas paling aktif untuk pengiriman Februari di Divisi Comex New York Exchange, terdongkrak US$ 4,30 (0,22%) menjadi ditutup pada US$ 1.928,20 per ons, setelah diperdagangkan mencapai tertinggi sesi di US$ 1.939 dan terendah di US$ 1.922.

Selain kenaikannya pada Jumat (20/1/2023), patokan kontrak berjangka emas AS juga naik 0,3% untuk minggu ini, menambah kenaikan 6,7% selama empat minggu sebelumnya dan kenaikan mingguan terpanjang sejak Agustus 2020.

ADVERTISEMENT

Harga emas berjangka terangkat US$ 16,9 (0,89%) menjadi US$ 1.923,9 pada Kamis (19/1/2023). Setelah jatuh US$ 2,9 (0,15%) menjadi US$ 1.907 pada Rabu (18/1/2023), dan anjlok US$ 11,8 (0,60%) menjadi US$ 1.909,9 pada Selasa (17/1/2023).

"Emas menghadapi beberapa resistensi kuat menjelang level US$ 1.950 dan itu mungkin bertahan sampai kita mendapatkan keputusan FOMC pada awal bulan depan," kata Analis platform perdagangan daring OANDA, Ed Moya, mengacu pada keputusan suku bunga 1 Februari dari Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC).

Baca Juga:

Harga CPO Flat

"Jika momentum bullish tetap ada, level US$ 2.000 akan tetap menjadi resistensi besar," kata Moya.

Presiden The Fed Philadelphia Patrick Harker mengatakan pada Jumat (20/1/2023) di pertemuan New Jersey Bankers Association bahwa ia mengharapkan kenaikan suku bunga 25 basis poin akan sesuai untuk maju setelah kampanye kenaikan suku bunga yang agresif tahun lalu. Dia memperkirakan Federal Reserve perlu menaikkan suku bunga beberapa kali lagi.

Investor sudah mulai mempertimbangkan risiko yang terkait dengan kredit real estat AS, yang dicatat oleh para analis pasar tertekan, juga mendukung emas.

National Association of Realtors (NAR) melaporkan Jumat (20/1/2023) bahwa penjualan rumah yang telah ada (existing-home) di AS turun 1,5% ke tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman sebesar 4,02 juta pada Desember, tingkat bulanan terendah sejak November 2010.

Harga logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret terdongkrak 6,5 sen (0,27%) menjadi ditutup pada US$ 23,93 per ons. Platinum untuk pengiriman April naik US$ 6,7 (0,64%) menjadi menetap pada US$ 1.047,8 per ons.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 48 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia