Jumat, 15 Mei 2026

Kementerian BUMN Beberkan Progres IPO Pertamina Geothermal

Penulis : Muawwan Daelami
13 Feb 2023 | 17:26 WIB
BAGIKAN
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO). (Foto: Perseroan)
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO). (Foto: Perseroan)

JAKARTA, investor.id – Kementerian BUMN memfinalisasi perjanjian underwriting terkait penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham anak usaha PT Pertamina (Persero), yaitu PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) hari ini.

Wakil Menteri BUMN I Pahala N Mansury mengatakan, hingga saat ini, proses IPO Pertamina Geothermal masih terus berlangsung dan sesuai rencana pendaftaran untuk finalisasi perjanjian underwriting dieksekusi hari ini.

“Kami harapkan akhir Februari nanti, proses IPO untuk PGE bisa kami selesaikan,” kata Pahala dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI, Senin (13/2/2023).

ADVERTISEMENT

Sesuai arahan Menteri BUMN dan Presiden Joko Widodo, Pahala menuturkan bahwa IPO PGE tersebut bertujuan untuk mengembangkan energi baru terbarukan (EBT), sekaligus untuk menambah kapasitas EBT di sektor listrik secara signifikan.

Hal senada juga disampaikan Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga. Menurut Arya, IPO PGE ini bertujuan untuk mendukung ekspansi perseroan sekaligus untuk menekan ketergantungan Pertamina terhadap impor minyak.

Dengan demikian, aksi korporasi ini diperlukan. Melalui IPO ini juga diharapkan akan dapat meningkatkan kepemilikan aset perseroan seiring dengan ekspansi. “Jadi, IPO akan menambah aset PGE, bukan mengurangi aset,” ujar Arya.

Dalam IPO ini, PGE membidik dana fantastis sebesar Rp 9,7 triliun. Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy Ahmad Yuniarto menjelaskan, dana hasil IPO tersebut akan digunakan perseroan untuk mengembangkan kapasitas produksi terpasang panas bumi hingga 1,272 megawatt (MW) pada 2027 dari kapasitas terpasang saat ini sebesar 672 MW.

Di samping menambah kapasitas terpasang, perseroan juga akan memanfaatkan dana hasil IPO untuk mendiversifikasi beberapa produk lain salah satunya green hydrogen yang diprediksi menelan waktu dua sampai tiga tahun ke depan.

“Kami akan menambah bauran dari sumber energi renewable supaya tidak hanya fokus ke listrik, tapi juga produk lain yang dihasilkan dari kegiatan EBT,” tutup Yuniarto.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 14 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 18 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 1 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia