Minyak Flat Dibayangi Beragam Sentimen di Pasar
JAKARTA, investor.id - Harga minyak mentah terpantau bergerak flat pada Rabu pagi (15/2/2023). Dibayangi beragam sentimen di pasar. Mulai dari proyeksi positif OPEC dan potensi pemulihan ekonomi Iran mendukung harga minyak, sementara rilisnya laporan EIA dan penjualan bahan bakar Rusia yang tidak terdampak efek embargo membatasi pergerakan harga lebih lanjut.
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, dalam laporan bulanan terbaru yang dirilis oleh OPEC diperkirakan bahwa pasar minyak global akan sedikit lebih ketat dari perkiraan sebelumnya, sehingga mendorong OPEC untuk menaikkan proyeksi konsumsi minyak global sebesar 2.3 juta bph – atau 100 ribu bph lebih tinggi dari yang diproyeksikan sebulan lalu – menjadi rata-rata 101.87 juta bph tahun ini. Di sisi lain, OPEC mengurangi estimasi pasokan di luar grup pada 2023 sebesar 150 ribu bph menjadi 67 juta bph.
“Selain itu, aliansi produsen minyak itu juga mengisyaratkan rencananya untuk tetap mempertahankan tingkat produksi yang disepakati pada akhir tahun lalu hingga akhir tahun 2023 ini, bahkan ketika ekonomi Tiongkok dibuka kembali dan sinyal pemangkasan produksi oleh Rusia,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Rabu (15/2/2023).
Tim Research and Development ICDX menambahkan, sentimen positif lain datang dari berita bahwa Presiden Tiongkok Xi Jinping pada hari Selasa yang menyatakan komitmen akan terus ‘berpartisipasi secara konstruktif’ dalam membujuk Presiden Iran Ebrahim Raisi untuk melanjutkan negosiasi penerapan perjanjian nuklir Iran. Xi juga mengatakan bahwa Tiongkok bersedia memperdalam kerja sama dengan Iran dalam perdagangan, pertanian, industri dan infrastruktur serta mengimpor lebih banyak produk pertanian Iran yang berkualitas tinggi.
“Perkembangan situasi tersebut memicu harapan akan membuat sektor usaha Iran kembali menguat terutama sektor minyak,” tambah Tim Research and Development ICDX.
Baca Juga:
Minyak Merosot Lebih dari 1%Sementara itu, data terbaru yang dirilis oleh grup industri American Petroleum Institute (API) untuk pekan yang berakhir 10 Februari menunjukkan stok minyak mentah dan stok bensin di AS dalam sepekan naik masing-masing sebesar 10.51 juta barel dan 846 ribu barel. Laporan API tersebut mengindikasikan permintaan yang sedang lesu di pasar energi AS.
“Meski demikian, pasar masih menantikan angka resmi versi pemerintah yang akan dirilis Rabu malam oleh badan statistik Energy Information Administration (EIA),” jelas Tim Research and Development ICDX.
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, turut membebani pergerakan harga, Rusia mengalihkan penjualan ekspor diesel ke Afrika, Asia dan pemuatan ship-to-ship (STS) pada bulan Februari pasca berlakunya embargo Uni Eropa (UE). Refinitiv melaporkan bahwa sejak awal Februari, sebagian besar kargo solar rendah sulfur milik Rusia dari pelabuhan Laut Hitam Rusia Tuapse dan Novorossiisk sedang menuju ke Turki, serta ke Oman, Togo, dan Tunisia.
Sebagian besar lainnya yang dimuat dari pelabuhan Baltik terpantau menuju Maroko, Aljazair, Ghana, Tunisia, dan Brasil. Untuk dua kargo yang memuat diesel Rusia dari pelabuhan Primorsk dilaporkan menuju pelabuhan Jeddah di Arab Saudi. Laporan Refinitiv tersebut mengindikasikan bahwa pasokan Rusia ke pasar global tetap berjalan dan tidak terganggu oleh embargo UE.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 82 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 76 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






