Dibayangi Beragam Sentimen, Minyak Lanjutkan Tren Negatif
JAKARTA, investor.id - Harga minyak mentah lanjutkan tren negatif karena turun ke level US$ 73.92 per barel. Pelemahan tersebut dibayangi beragam sentimen. Mulai dari meningkatnya kekhawatiran bahwa kenaikan suku bunga yang lebih agresif oleh bank sentral dapat menekan pertumbuhan ekonomi dan permintaan bahan bakar, kemudian terdapat rencana Rusia yang berencana untuk memotong ekspor dan produksi pada bulan Maret.
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan bahwa pembuat kebijakan sebagian besar setuju untuk terus menaikkan suku bunga untuk menurunkan inflasi kembali sesuai target telah mendukung perlambatan lebih lanjut dalam aktivitas ekonomi di Amerika Serikat (AS).
“Karena beberapa perusahaan AS masih berusaha keras untuk mengatasi kewajiban bunga yang lebih tinggi sehingga apabila terdapat lonjakan lebih lanjut dalam suku bunga akan menghasilkan lebih banyak kontraksi dalam skala aktivitas,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Kamis (23/2/2023).
Tim Research and Development ICDX menambahkan, Rusia berencana untuk memotong ekspor minyak dari pelabuhan baratnya hingga 25% atau sebanyak 625 ribu barel per hari pada bulan Maret dibandingkan Februari, melebihi pengurangan produksi yang diumumkan dalam upaya untuk menaikkan harga minyak Rusia, pemangkasan produksi minyak tersebut sebesar 500 ribu barel per hari pada bulan Maret yakni 5% dari outputnya dan 0,5% dari produksi global.
“Pada perdagangan sebelumnya terlihat kelompok negara-negara industri G7 telah sepakat untuk membatasi harga minyak Rusia sebesar US$ 60 per barel,” tambah Tim Research and Development ICDX.
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, minyak Rusia telah diperdagangkan di bawah level dalam beberapa pekan terakhir karena diskon besar dan tarif pengiriman yang mahal. Rusia sejauh ini telah menyalurkan sebagian besar ekspor minyaknya dari Eropa ke India, Tiongkok, dan Turki.
American Petroleum Institute (API) Amerika Serikat melaporkan penumpukan persediaan minyak yang sangat besar sebesar 9,985 juta barel jauh melebihi ekspektasi kenaikan 1,2 barel. Hal ini menandakan pasokan minyak yang melebihi permintaan secara keseluruhan, yang mengakibatkan penurunan harga minyak lebih lanjut.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 82 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 77 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






