Garap Proyek Strategis, TBS Energi (TOBA) Siapkan Dana US$ 500 Juta
JAKARTA, investor.id – PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) menyiapkan dana sekitar US$ 500 juta atau setara Rp 7,5 triliun untuk mengeksekusi seluruh rencana strategis, mulai dari proyek energi, renewable energy atau energi baru terbarukan (EBT), hingga ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Direktur TBS Energi (TOBA) Alvin Firman Sunanda menyatakan, dana sebesar itu akan berasal dari kas internal, pinjaman perbankan, dan dari pasar modal. Per September 2022, posisi kas perseroan cukup solid, sebesar US$ 90 juta, sedangkan secara setahun penuh sekitar US$ 100-120 juta.
Selain kas internal, dia mengatakan, perseroan akan memanfaatkan akses pendanaan ke beberapa bank lokal, seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Selanjutnya, perseroan akan terus mengeksplorasi pembiayaan kreatif (creative financing).
Baca Juga:
XL Axiata Terus Gencarkan Green BTSBahkan, Alvin menyatakan, perseroan sedang dalam tahap penerbitan obligasi senilai Rp 500 miliar. Ini sekaligus menjadi eksposur perdana perseroan di pasar obligasi yang selanjutnya membuka peluang terhadap green bonds.
“Jadi, kami ingin tekankan bahwa kami bukan menjual motor, tetapi membangun ekosistem, mulai dari pengendara, EV battery, even recycling battery. Jadi, dana US$ 500 juta ini bukan hanya untuk mendanai ekosistem EV battery, tetapi renewable energy,” kata Alvin di acara KBSA yang disiarkan langsung PT Mirae Asset Sekuritas, Kamis (23/2/2023).
Sementara itu, Co-Head of Investor Relations and Head of Corporate Finance TBS Energi (TOBA) Mirza Rinaldy Hippy memerinci, dari total dana U$ 500 juta, sekitar US$ 150 juta dipakai untuk proyek energi dan US$ 350 juta dibelanjakan untuk ekosistem EV battery, seperti manufacturing and assembly. Porsi terbesar penggunaan dana EV battery adalah untuk swapping infrastructure dan sisanya sebagai modal kerja.
“Kami juga akan meningkatkan pinjaman dari perbankan dan opsi-opsi pasar modal, seperti penerbitan obligasi dan rights issue,” beber dia.
Investor Strategis
Lebih lanjut Mirza mengatakan, perseroan juga tidak menutup kemungkinan untuk menggaet investor strategis guna menambah daftar investor berpengalam untuk bisa menjalin kerja sama dengan perseroan.
Mirza menegaskan, perseroan mematok penjualan secara bertahap sebanyak 500 ribu sel baterai hingga 2025. Target ini sejalan dengan rencana perseroan yang fokus pada kegiatan manufaktur dan perakitan.
“Jadi, kami sudah memiliki target, sehingga akan mengoptimalisasi pabrik manufaktur untuk mencapai hasil memuaskan. Karena itu, menargetkan penjualan 500 ribu sel baterai dan kapasitasnya akan disesuaikan. Mungkin, tahun ini kami akan mulai dari produksi tiga ribu, kemudian 35 ribu, lalu 100 ribu sampai akhirnya kita mencapai 500 ribu,” ungkap Mirza.
Menurut Mirza, target tersebut bisa dicapai, mengingat dari 120 juta kendaraan di Indonesia, sebagian merupakan pasar potensial. Belum lagi, sekitar 70% rumah tangga memiliki motor.
Ditambah lagi, kata Mirza, sisi penetrasi EV di Indonesia relatif kecil yakni sekitar 0,2% dibandingkan Tiongkok. “Jadi, tentu akan ada insentif-insentif yang kita bisa leverage dari situ, sehingga bisa mencapai target penjualan 500 ribu sel baterai EV tahun 2025,” imbuh Mirza.
Terkait lini usaha di segmen energi, Mirza menuturkan, perseroan menargetkan memiliki kapasitas terpasang 100 megawatt (MW) pada 2025.
“Lagi-lagi, ini akan disesuaikan dengan kapasitas kita. Tahap awal, kami mulai renewable energy dengan proyek 6 MW. Lalu, untuk proyek angin sebesar 22 MW, solar panel 42 MW. Artinya, dari tiga proyek ini sudah sekitar 70% target kapasitas 100 MW tahun 2025,” tandas dia.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





