Vale (INCO) Garap Megaproyek, Sahamnya Masih Bisa Terkerek
JAKARTA, investor.id – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memiliki prospek dan proyeksi pertumbuhan yang tetap stabil, meskipun belanja modal lebih tinggi pada 2023. Pertumbuhan utama datang dari proyek smelter nikel dengan teknologi rotary kiln-electric furnace (RKEF) di Morowali, Sulawesi Tengah.
“Kami mempertahankan rekomendasi beli saham INCO dengan target harga Rp 8.100. Pertumbuhan EPS INCO 2023 tergolong menarik dan memiliki proyek potensial. Prospek tahun ini tetap positif, meskipun manajamen menerapkan strategi konservatif,” tulis analis Indo Premier Sekuritas Erindra Krisnawan dan Reggie Parengkuan dalam risetnya.
Sementara itu, hingga berita ini ditayangkan, saham INCO bertengger di level Rp 6.575. Dengan begitu, potensi cuan dari saham INCO sebesar 23%.
Erindra dan Reggie memperkirakan, produksi nikel dalam matte dan pemulihan volume penjualan Vale Indonesia terjadi pada 2023 di atas 70 ribu ton atau naik 15% (yoy), seiring rampungnya pabrik baru.
“Kami mempertahankan prediksi volume produksi dan penjualan 2023 sebanyak 72 ribu ton, sekaligus mengasumsikan level ini sebagai produksi yang stabil untuk 2024-2026,” ungkap para analis tersebut.
Mereka pun mempertahankan pandangan bahwa produsen nikel akan mendapatkan keuntungan dari harga batu bara yang lebih rendah pada 2023. Adapun biaya tunai Vale diasumsikan sebesar US$ 11 ribu per ton.
Bahkan Erindra dan Reggie telah menyesuaikan biaya tunai Vale pada 2024 menjadi US$ 10 ribu per ton yang lebih konservatif, mengingat penurunan biaya energi yang lebih rendah pada 2024. Panduan belanja modal yang lebih tinggi tahun ini mencerminkan aspirasi dari proyek hijau emiten berkode saham INCO tersebut.
Manajemen INCO mengindikasikan belanja modal untuk pengembangan sejumlah proyek. Pertama, proyek RKEF Bahodopi senilai US$ 2,6 miliar, yang terdiri atas pabrik peleburan US$ 2,2 miliar dan pengembangan tambang US$ 400 juta. Kedua, proyek HPAL Pomalaa senilai US$ 3,5 miliar, yang terdiri atas HPAL US$ 2,5 miliar dan pengembangan tambang US$ 1 miliar.
Ketiga, HPAL Sorowako sebesar US$ 2,5 miliar. Belanja modal terbaru untuk RKEF Bahodopi diterjemahkan menjadi intensitas modal yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan sejenis yakni pada US$ 30 ribu per ton dibanding perusahaan sejenis US$ 10-16 ribu per ton.
“Kami memahami bahwa proyek tersebut mencakup pengembangan fasilitas penyimpanan dan regasifikasi LNG, sejalan dengan tujuan pengurangan karbon jangka panjang INCO,” sebut Erindra dan Reggie.
Dua analis tersebut mempertahankan rekomendasi beli saham INCO, karena mempertimbangkan proyek-proyek pertumbuhan dari smelter. “INCO memiliki pertumbuhan proyek yang menarik yang akan diterjemahkan menjadi 21% CAGR 5 tahun,” ungkap mereka.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






