Jumat, 15 Mei 2026

Pembeli Minyak Sawit Asia Incar Kebijakan Ekspor Stabil dari Produsen

Penulis : Grace El Dora
7 Mar 2023 | 14:15 WIB
BAGIKAN
Tandan buah segar pohon kelapa sawit terlihat di dalam gerobak dorong ata perkebunan kelapa sawit di Kuala Selangor, Selangor, Malaysia pada 26 April 2022. (Foto: REUTERS/Hasnoor Hussain)
Tandan buah segar pohon kelapa sawit terlihat di dalam gerobak dorong ata perkebunan kelapa sawit di Kuala Selangor, Selangor, Malaysia pada 26 April 2022. (Foto: REUTERS/Hasnoor Hussain)

KUALA LUMPUR, investor.id – Asian Palm Oil Alliance (APOP), badan pembeli minyak sawit, ingin negara-negara produsen memastikan mereka memiliki kebijakan ekspor yang stabil. Adapun tahun lalu terjadi perubahan yang menyebabkan volatilitas dalam perdagangan minyak tropis, kata ketua kelompok tersebut.

India, Pakistan, Bangladesh, Nepal, dan Sri Lanka saat ini adalah anggota APOP dan aliansi tersebut ingin menambah lebih banyak pembeli, kata ketua APOP Atul Chaturvedi, pada pertemuan tahunan negara-negara anggota di Kuala Lumpur, dilansir dari Reuters Selasa (7/3).

Negara-negara pengimpor telah membangun kilang untuk memproses minyak sawit mentah. Tetapi produsen mengenakan bea ekspor yang lebih tinggi pada minyak sawit mentah daripada yang disuling dan membuat pembelian minyak sawit olahan lebih murah daripada minyak mentah, kata Chaturvedi.

ADVERTISEMENT

“Pajak yang lebih tinggi untuk minyak sawit mentah membuat kilang menganggur di negara pengimpor. Produsen perlu memikirkan struktur bea ini, yang merugikan pembeli," katanya, Selasa.

Dorab Mistry, direktur perusahaan barang konsumen India Godrej International, mengatakan pada pertemuan tersebut produsen utama Indonesia dan Malaysia perlu menyadari negara-negara Asia adalah pembeli paling tepercaya dan mereka melakukan pembelian tanpa menimbulkan masalah bagi industri.

Perubahan kebijakan ekspor yang tiba-tiba seperti larangan ekspor yang diberlakukan Indonesia tahun lalu tidak hanya mengganggu rantai pasokan di negara pengimpor, tetapi juga merugikan produsen dan mereka harus memikirkan pembeli sambil membuat perubahan mendadak, kata Mistry.

Indonesia, pengekspor minyak sawit terbesar di dunia, tahun lalu mengejutkan pembeli dengan melarang ekspor minyak sawit. Pelarangan ini memaksa pembeli untuk mengamankan pasokan dari saingannya Malaysia dengan harga tinggi dan mencari alternatif seperti minyak kedelai (soyoil) dan sunoil.

Selain itu, produsen besar dinilai cenderung lebih menanggapi permintaan dari pembeli di Eropa daripada memperhatikan kebutuhan pembeli Asia, kata presiden Asosiasi Ekstraktor Pelarut India.

“Uni Eropa (UE) menyumbang kurang dari 9% dari impor minyak sawit global. Pembeli Asia menyumbang sekitar 40%, tetapi produsen mencoba memenuhi permintaan UE dan mengabaikan pembeli Asia,” katanya.

Komisi Eropa pada Desember 2022 mengesahkan undang-undang deforestasi yang mewajibkan perusahaan untuk membuat pernyataan uji tuntas dan memberikan informasi yang dapat diverifikasi. Yakni bahwa komoditas, termasuk kelapa sawit, tidak ditanam di lahan yang digunduli setelah 2020 atau berisiko terkena denda yang besar.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 8 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 12 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 50 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 54 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia