Jumat, 15 Mei 2026

Dana Kelolaan Reksa Dana Turun, Karena Investasi Asuransi Banyak Beralih Ke KPD

Penulis : Indah Ayu Pujiastuti
27 Mar 2023 | 16:30 WIB
BAGIKAN
Direktur PT infovesta Utama, Parto Kawito, saat menjadi nasa sumber dalam diskusi panel dengan tema Reksa Dana Pilihan di Era Suku Bunga Tinggi, yang digelar Majalah Investor dalam rangka pemberian penghargaan Best Mutual Fund Award 2023, Senin (27/3/2023).
Direktur PT infovesta Utama, Parto Kawito, saat menjadi nasa sumber dalam diskusi panel dengan tema Reksa Dana Pilihan di Era Suku Bunga Tinggi, yang digelar Majalah Investor dalam rangka pemberian penghargaan Best Mutual Fund Award 2023, Senin (27/3/2023).

JAKARTA, Investor.id - Dana kelolaan industri reksa dana di tahun 2022 turun signifikan. Penurunan ini merupakan pertama kalinya bagi industri reksa dana dalam sembilan tahun terakhir.

Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dana kelolaan reksa dana per Desember 2022 tercatat Rp507,6 triliun atau turun 12,24% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp579 triliun.

Penurunan tersebut disebabkan adanya perpindahan investasi dari perusahaan asuransi yang semula masuk ke reksa dana kini beralih ke kontrak pengelolaan dana (KPD). Seperti tertuang dalam SEOJK No 5/2022 tentang PAYDI, disebutkan perusahaan asuransi hanya diperkenankan menempatkan investasi pada reksa dana dengan underlying aset pada Surat Berharga Negara (SBN), atau Surat Berharga yang diterbitkan  Bank Indonesia.

ADVERTISEMENT

"Kalau dihitung dengan KPD, sebetulnya dana kelolaan industri reksa dana tidak berubah banyak, tapi karena ada shifting dari dari yang tadinya investasi di reksa dana ke KPD jadi seakan-akan reksa dana itu turun," jelas Direktur PT Infovesta Utama, Parto Kawito dalam acara Best Mutual Fund Award 2023 yang diselenggarakan Majalah Investor pada Senin (27/3/2023) via Zoom Meeting.

Menurut Parto, kalau dimasukkan ke KPD itu secara pengelolaan jauh lebih berisiko dibandingkan reksa dana, karena regulasinya tidak seketat reksa dana. Boleh invest di satu saham 100%, kalau di reksa dana tidak boleh, harus didiversifikasi. “Saya juga kurang mengerti kenapa kok diarahkan ke KPD. Tapi mungkin itu sudah ada pertimbangan dari OJK yg saya kurang tahu,” tambah Parto.

Kendati ada penurunan selama tahun 2022, Parto optimistis dana kelolaan industri reksa dana tahun ini akan bertumbuh lebih baik dari tahun 2022.

Editor: Maswin

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia