Investor Wall Street Nantikan Data Penting Ekonomi AS Pekan Ini
NEW YORK, investor.id – Investor Wall Street menantikan data inflasi utama dan awal musim pendapatan kuartal I-2023 di Amerika Serikat (AS). Data indeks harga konsumen (CPI) terbaru dan indeks harga produsen (PPI) akan menjadi kunci dalam menentukan kebijakan baru bank sentral.
Pada perdagangan akhir pekan lalu, rata-rata indeks utama naik untuk mengakhiri minggu yang dipersingkat oleh liburan. Namun, hanya Dow membukukan kenaikan mingguan sebesar 0,6% sementara S&P 500 dan Komposit Nasdaq membukukan kerugian mingguan, berakhir lebih rendah masing-masing sebesar 0,1% dan 1,1%.
Pasar bergejolak karena data ekonomi menunjukkan tanda-tanda melemahnya pasar tenaga kerja. Laporan pekerjaan Maret 2023 yang dirilis Jumat (7/3) menunjukkan ekonomi yang tangguh dan inflasi yang moderat. Bagaimanapun, hal ini akan mendorong saham berjangka dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Treasury AS lebih tinggi.
Bursa Efek New York ditutup untuk Jumat Agung.
Nonfarm payrolls (NFP) tumbuh sebesar 236.000 untuk bulan tersebut, sejalan dengan estimasi Dow Jones sebesar 238.000, menurut laporan Departemen Tenaga Kerja. Pengangguran turun menjadi 3,5%, bertentangan dengan ekspektasi yang akan bertahan dari bulan sebelumnya di 3,6%.
Data tersebut konsisten dengan ekspektasi resesi yang bergerak lambat yang terjadi di AS. Kondisi ini tidak mengarah pada penyelesaian segera masalah inflasi, menurut Jason Pride, kepala investasi Private Wealth di Glenmede.
“Dengan demikian, kemungkinan kenaikan suku bunga seperempat poin persentase (25 basis poin/ bps) lagi di Mei akan lebih tinggi karena data tampaknya tidak membenarkan jeda Fed,” tambahnya, dikutip dari CNBC, Senin (10/4).
Yung-Yu Ma, kepala strategi investasi di BMO, mengatakan tingkat penciptaan lapangan kerja pada Maret 2023 mencerminkan penyangga yang cukup besar dalam ekonomi untuk membantu meredam dampak perlambatan ekonomi.
“Laporan tersebut secara terarah menguntungkan, tetapi tidak cukup untuk mengubah pemikiran Fed,” tuturnya.
“Mungkin masih belum jelas apakah Fed menaikkan 25 bps lagi pada pertemuan berikutnya dan bertahan; set data inflasi berikutnya mungkin akan menjadi faktor penentu,” ujar Ma.
Investor berada dalam pekan yang sibuk dengan data ekonomi, termasuk data CPI dan PPI terbaru, yang masing-masing akan dirilis pada Rabu (12/4) dan Kamis (13/4). Kedua data ini akan menjadi kunci dalam menentukan apakah atau kapan Fed akan memberi jeda atau mengakhiri kenaikan suku bunga.
Mereka juga akan mendapatkan kelompok pertama perusahaan yang melaporkan hasil keuangan kuartal I-2023. Tilray Brands memulai semuanya pada perdagangan Senin. Bank-bank besar yakni JPMorgan Chase, Wells Fargo, dan Citigroup akan merilis laporan keuangan pada Jumat (14/4).
Ekuitas berjangka AS naik sedikit pada Minggu (9/4) malam karena bursa berjangka terkait dengan pasar luas S&P 500 naik 0,2% dan Dow Jones Industrial Average berjangka naik tipis 62 poin, atau 0,2%. Nasdaq 100 datar.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






