Keren, Startup Besutan Eks CEO Indosat Mau Masuk Bursa Nasdaq
JAKARTA, Investor. id - Digiasia Bios berencana melantai di bursa National Association of Securities Dealers Automated Quotations (Nasdaq) kuartal II-2023. Dalam rencana initial public offering (IPO) itu, perusahaan rintisan (startup) milik eks CEO Indosat Alexander Rusli ini akan merger dengan special purpose acquisition company (SPAC) yakni Stonebridge.
“Dengan ekosistem yang besar dan kuat di Indonesia, Digiasia Bios menggandeng Stonebridge dan menjadi startup pertama dari Indonesia yang terdaftar di Nasdaq guna memperluas jangkauan pasarnya ke pasar Internasional,” ujar Chief Marketing Officer Digiasia Bios Rully Hariwinata, dalam pertemuan terbatas dengan media, Selasa (11/4/2023).
Menurut dia, tujuan kerja sama itu agar perusahaan bisa lebih kuat di Asia Tenggara. Valuasi perusahaan hasil merger, sebelum pengucuran dana tambahan (pre-money) adalah US$ 500 juta atau sekitar Rp 7,8 triliun.
Sampai kuartal I-2023, Digiasia Bios telah mencetak sejumlah tonggak pencapaian (milestone). Per kuartal IV-2022, perusahaan mencatatkan gross transaction value (GTV) tahunan US$ 3 miliar lebih, dengan total merchants on platform lebih dari 750.000. Digiasia Bios juga membukukan 35 juta transaksi sepanjang 2022 dan total 97 mitra dan pelanggan B2B di papan di berbagai produk atau on board across product range.
Laporan Statista 2022 dari Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) menunjukan, sektor ekonomi digital dunia saat ini sedang mengalami kondisi Tech Winter, lantaran adanya konflik geopolitik, scarring effect pasca-pandemi Covid-19, hingga terjadinya stagflasi di sejumlah negara.
Namun perusahaan meyakini, Indonesia mampu menghadapi tantangan ini secara progresif karena memanfaatkan keadaan ini sebagai momentum akselerasi digitalisasi jasa keuangan.
Mengacu momentum ini, Digiasia Bios mengumumkan strategi bisnis terbarunya sebagai embedded finance as a service (EFaaS) pertama di Indonesia. Digiasia Bios yang didirikan pada 2017 lalu oleh Alexander Rusli dan Prashant Gokarn berambisi mempercepat inklusi keuangan melalui lisensi dan kumpulan teknologi yang dimiliki.
Keberadaan empat aset berlisensi sah, yakni KasPro, KreditPro, RemitPro, dan DigiBos, Digiasia Bios mampu mendekonstruksi dan merekonstruksi kapabilitas perbankan. Terutama dalam membantu perjalanan transaksi keuangan digital mereka di ekosistem multi vertikal perekonomian Indonesia.
“Arsitektur penyematan teknologi bisnis dari Digiasia Bios sendiri diselaraskan sedemikian rupa agar lebih mudah dipahami oleh orang-orang awam,” sambung Rully.
Editor: Harso Kurniawan
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler





