Wah, Perusahaan Pembiayaan Boy Thohir-Jerry Ng (BFIN) Untung Gede!
JAKARTA, investor.id – PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), perusahaan pembiayaan (multifinance) milik konglomerat Garibaldi 'Boy' Thohir dan Jerry Ng, mencetak laba bersih Rp 508,8 miliar atau tumbuh 28,5% pada kuartal I-2023 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Nilai laba BFI Finance tersebut merupakan tertinggi secara kuartalan dalam sejarah perusahaan. Ini sekaligus menandai kelanjutan rapor biru perseroan yang telah diukir pada tahun sebelumnya.
Pertumbuhan itu salah satunya didukung oleh kemampuan BFI Finance dalam menggenjot laju penyaluran pembiayaan baru (booking) di awal tahun ini.
Dari sisi pendapatan, emiten berkode saham BFIN tersebut berhasil membukukan Rp 1,6 triliun atau tumbuh 39% pada kuartal I-2023 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Biaya operasional perusahaan tercatat sebesar Rp 1 triliun atau naik 46,8%. Ini sejalan dengan peningkatan kegiatan operasional guna mendukung pertumbuhan piutang selama satu tahun terakhir.
Adapun realisasi penyaluran pembiayaan baru pada kuartal I-2023 melesat 53,9% menjadi Rp 6,3 triliun. Nilai tersebut juga menjadi rekor baru bagi perusahaan terkait booking.
Direktur Keuangan BFI Finance Sudjono mengatakan, penyaluran pembiayaan baru yang masih agresif mendongkrak total aset sampai dengan 46,5% (yoy) menjadi Rp 24 triliun hingga kuartal I-2023. Peningkatan ini membuktikan semakin kuatnya komitmen BFI Finance untuk terus memperluas akses keuangan bagi masyarakat Indonesia.
"Sebagian besar portofolio pembiayaan berdasarkan jenis asetnya masih berasal dari pembiayaan kendaraan roda empat, yakni mengambil porsi hingga 67,5% dengan nilai piutang yang dikelola atau managed receivables sebesar Rp 15,2 triliun dari total Rp 22,5 triliun," ungkap Sudjono dalam keterangannya, Rabu (26/4/2023).
Kinerja bisnis perusahaan saat ini tidak terlepas dari situasi ekonomi secara keseluruhan, dimana pada awal tahun 2022, industri pembiayaan masih dibayangi pandemi Covid-19. Kondisi tersebut telah semakin terkendali dan lebih kondusif seiring membaiknya kondisi fundamental domestik.
Namun, Sudjono mengakui, situasi masih cukup menantang dengan kebijakan bank sentral dalam menaikkan suku bunga acuan, yang dilanjutkan dengan penutupan beberapa bank di Amerika Serikat. Tetapi, hal tersebut tidak berdampak banyak terhadap industri perbankan dan pembiayaan di Tanah Air.
Sebaliknya, peningkatan aktivitas perekonomian nasional tercermin dari kenaikan sisi konsumsi dan investasi serta diperkuat keputusan pemerintah untuk mengakhiri tanggap darurat pandemi. Optimisme ini juga tergambar dari tetap tingginya permintaan pembiayaan baru, yang diikuti dengan likuiditas perbankan dan pasar modal yang baik.
Dia mengungkapkan, sederet sentimen itu berpengaruh positif pada pertumbuhan pembiayaan maupun sumber pendanaan BFIN. Indikator tersebut turut mendukung pertumbuhan portofolio pembiayaan pada semua segmen produk BFIN.
Hingga kuartal I-2023, BFIN mengelola piutang pembiayaan bersih Rp 21,4 triliun atau tumbuh 45% (yoy). Pertumbuhan skala bisnis ini pun masih diikuti kualitas pembiayaan yang terjaga moderat, dengan rasio non performing financing (NPF) bruto di level 1,06% dan NPF neto 0,43%, serta cakupan penyisihan 3,8 kali.
"BFI Finance terus melanjutkan tren positif pada 2023. Kami optimis dapat melanjutkan tren ini dengan tetap menjaga kualitas aset yang baik dan pencadangan yang memadai, sambil melanjutkan proses transformasi bisnis dan mitigasi risiko melalui tata kelola yang baik," jelas Sudjono.
Untuk mengamankan kebutuhan modal kerja selama tahun ini, BFIN telah melakukan penandatanganan perjanjian kredit dengan beberapa bank terkemuka di Tanah Air. Selain itu, perseroan kembali menerbitkan obligasi sebagai salah satu sumber pendanaan setelah sempat vakum pada tahun lalu.
Inisiatif tersebut ikut didukung oleh peningkatan pemeringkatan obligasi BFIN yang diterbitkan oleh lembaga pemeringkat PT Fitch Ratings Indonesia (Fitch), dari A+ menjadi AA- dengan outlook stabil. Hasilnya, BFIN telah menerbitkan obligasi berkelanjutan sebanyak dua kali dengan nilai emisi sebesar Rp 2,7 triliun, yang juga didukung oleh derasnya likuiditas perbankan.
"Obligasi BFIN tersebut masing-masing PUB V tahap III sebesar Rp 1,1 triliun dan PUB V tahap IV sebesar Rp 1,6 triliun. Hal ini membantu mengamankan posisi likuiditas perusahaan," ujar Sudjono.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





