Hati-hati Dividend Trap, Saham Astra (ASII) Anjlok Usai Cum Dividen
JAKARTA, investor.id – Harga saham PT Astra International Tbk (ASII) anjlok hingga auto reject bawah (ARB). Penurunan tersebut terjadi setelah cum dividen tunai di pasar reguler dan tunai yang berakhir pada Kamis (4/5/2023).
Baca Juga:
Astra (ASII) Tebar Dividen Rp 25,9 TBerdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham ASII melorot sebanyak Rp 450 (6,82%) menjadi Rp 6.150. Saham ini dibuka langsung ARB. Penurunan tersebut juga sejalan dengan anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG).
Penurunan tajam saham ASII mirip dengan pola pergerakan saham anak usahanya, PT United Tractors Tbk (UNTR), yang terjungkal hingga ARB berhari-hari usai cum dividen.
Bahkan penurunan harga saham UNTR lebih dalam dibandingkan dividen yang bakal didapatkan. Penurunan harga saham UNTR mencapai Rp 6.925 dibandingkan dividen yang bakal didapatkan Rp 6.150. Dengan demikian, pemegang saham UNTR masuk dalam dividend trap, karena total dividen yang didapatkan lebih rendah dari penurunan harga sahamnya.
Berdasarkan data BEI, harga saham UNTR telah anjlok 22,28% dari Rp 31.075 pada 27 April 2023 menjadi Rp 24.150 pada penutupan perdagangan Jumat (5/5/2023).
Sementara itu, Astra International akan membagikan dividen final sebesar Rp 552 per saham pada 19 Mei 2023. Pemegang saham yang memegang saham ASII hingga 4 Mei 2023 berhak mendapatkan dividen dari saham tersebut.
Target Harga ASII
Lalu, bagaimana sebenarnya prospek saham ASII? RHB Sekuritas Indonesia memberikan pandangan positif terhadap keberhasilan ASII mencetak lonjakan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 27,1% menjadi Rp 8,71 triliun hingga kuartal I-2023. Lonjakan laba tersebut mendorong RHB Sekuritas Indonesia untuk mempertahankan rekomendasi beli saham tersebut dengan target harga Rp 7.750.
Astra membukukan pendapatan bersih Rp 82,98 triliun pada kuartal I-2023. Angka ini naik 15,45% dari periode yang sama pada tahun lalu Rp 71,87 triliun. Dalam laporan keuangan per 31 Maret 2023, Astra juga mencatat beban pokok pendapatan Rp 65,26 triliun, meningkat dari Rp 56,13 triliun. Sedangkan laba bruto Rp 17,71 triliun, tumbuh ketimbang 31 Maret 2022 Rp 15,73 triliun.
Adapun, laba periode berjalan ASII mencapai Rp 11,59 triliun sampai akhir Maret tahun ini, lebih besar dari Rp 9,27 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp 8,71 triliun, meningkat 27,1% dari Rp 6,85 triliun pada kuartal I-2022. Laba per saham dasar dan dilusian Rp 215, naik dari Rp 169 pada kuartal pertama tahun lalu.
Realisasi laba bersih tersebut setara dengan 31,4% dari target kami dan mencapai 30,1% dari konsensus analis. Lonjakan juga dikontribusikan hampir seluruh segmen bisnis perseroan, mulai dari segmen otomotif, keuangan, alat berat, pertambangan, dan konstruksi,” tulis analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya dalam riset terbarunya.
Terkait penjualan segmen otomotif, emiten berkode saham ASII tersebut telah melampaui estimasi sejalan dengan peningkatan permintaan otomotif diikuti dengan peningkantan margin keuntungan segmen ini. Bahkan, margin EBIT meningkat menjadi 2,8% pada kuartal I-2023, dibandingkan peride sama tahun lalu 2,1%. Margin EBIT tersebut tercatat sebagai yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Meski realisasi kinerja keuangan melesat, RHB Sekuritas memperkirakan bahwa laba bersih ASII tahun ini hanya mencapai Rp 26,65 triliun dibandingkan raihan tahun lalu Rp 29,47 triliun. Pendapatan perseroan juga diprediksi turun dari Rp 301,37 triliun menjadi Rp 287,32 triliun.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






