Sektor Ini Bikin IHSG Babak Belur saat Bursa Lain Menghijau
JAKARTA, Investor.id – Pelemahan saham-saham batu bara berkapitalisasi besar memukul indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (29/5/2023), saat bursa saham regional menghijau dan negosiasi plafon utang Amerika Serikat (AS) tuntas.
Kemarin, indeks terpangkas 0,09% ke level 6.681, setelah sebelumnya sempat turun ke level 6.616. Sementara itu, indeks FTSE BM Malaysia naik 0,14%, PSEi Filipina 0,96%, SETi Thailand 0,7%, dan VN-Index Vietnam naik 1%. Adapun indeks STI Singapura turun 0,38%. Sementara itu, indeks SH Comp Tiongkok naik 0,28%, Sensex India 0,56%, Nikkei225 Jepang 1%, dan TAEIX Taiwan 0,8%.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Ketua DPR Kevin McCarthy mencapai kesepakatan akhir, Minggu (28/5/2023), untuk menaikkan plafon utang negara. Kini, mereka bekerja memastikan dukungan yang cukup di Kongres untuk meloloskan Rancangan Undang-Undang (RUU) itu pekan ini.
Baca Juga:
Kuartal I, BEI Masuk 10 Besar IPO GlobalBerdasarkan data BEI, sebanyak lima saham batu bara masuk 10 besar pemberat IHSG. Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi pemberat terbesar indeks dengan kontribusi penurunan 16,7 poin, setelah turun 4,8%. Selanjutnya, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyumbangkan penurunan indeks 2 poin, PT United Tractors Tbk (UNTR) 0,72%, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) turun 0,66%, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) 0,55 poin.
Saham BYAN juga menyumbangkan penurunan indeks terbesar selama Mei 2023, sebesar 80,87, dan sepanjang 2023 sebesar 71 poin. Adaro berada di posisi kedua, masing-masing sebesar 34 poin selama Mei dan 59 poin selama year to date.
Sepanjang 2023, IHSG turun 2,47%, sedangkan IDX Sector Energy ambles lebih dalam, sebesar 23%. Ini tak lepas dari terus melorotnya harga batu bara di pasar dunia. Harga batu bara, berdasarkan tradingeconomics.com, harga batu bara turun menjadi US$ 160 per ton pada 26 Mei 2023, dibandingkan awal tahun US$ 387 per ton.
Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Roger MM menjelaskan, penurunan IHSG pada perdagangan hari ini, seiring tren pelemahan harga batu bara dunia. Akibatnya, kinerja saham-saham batu bara terkoreksi. Ditambah lagi, isu debt ceiling belum mencapai titik final.
“Jadi, sentimen debt ceiling tetap menjadi perhatian investor. Namun, penurunan harga batu bara saat ini telah membuat saham-saham energi tergerus cukup dalam sepekan ini, sehingga pergerakan saham energi masih akan volatile,” tutur Roger kepada Investor Daily, Senin (29/5/2023).
Menurut Roger, pelemahan harga komoditas berpengaruh yang cukup signifikan, karena dapat memberikan tekanan pada neraca perdagangan. Belum lagi, penerimaan ekspor juga akan melorot, jika tren pelemahan ini terus berlanjut. Ini tetap berlaku, kendati impor turun, karena surplus perdagangan akan mengecil.
Selain itu, dia menambahkan, efek kenaikan suku bunga yang bisa memicu resesi ke depan memberikan tekanan ke saham-saham komoditas, termasuk batu bara. Kendati begitu, Roger masih berpandangan netral untuk sektor batubara.
Pasalnya, dia menuturkan, sektor energi, terutama batu bara masih akan mendapatkan katalis positif dari permintaan Tiongkok pada musim panas. Batu bara bisa memenuhi kebutuhan listrik untuk AC, seiring membaiknya aktivitas manufaktur.
Isu ESG
Pengamatan serupa juga disampaikan Direktur Ekuator Swarna Capital Hans Kwee. Lesunya perdagangan saham kemarin diakibatkan oleh menurunnya harga komoditas global, khususnya batu bara. Ditambah lagi, setoran pajak sektor pengolahan melambat yang sekaligus menjadi indikasi perlambatan sektor manufaktur.
“Dunia saat ini sangat pro-ESG, sehingga komoditas, khususnya batu bara tidak mendapatkan momentum kenaikan seperti tahun lalu ketika Eropa krisis energi dan Tiongkok memblok batu bara Australia,” jelas Hans.
Walaupun demikian, Hans memprediksi, dalam jangka pendek, IHSG akan kembali menguat. Hanya saja, dirinya menekankan, para pelaku pesar tetap harus berhati-hati lantaran The Fed berpotensi melanjutkan kenaikan suku bunga. “Personal consumption expenditure (PCE) juga kemarin agak tinggi,” tutup Hans.
Editor: Harso Kurniawan
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






