IHSG Terperosok, Saham Sektor Energi Penyumbang Terbesar
JAKARTA, Investor.id – Saham sektor energi menjadi pemberat utama pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) sepanjang Januari-Mei 2023. Sedangkan sektor saham dengan penguatan terbesar untuk periode sama dicatatkan transportasi dan logistik.
Berdasarkan data BEI, saham sektor energi telah anjlok mencapai 25% hingga akhir Mei 2023 dan disusul saham sektor material dasar dengan penurunan 19,12%. Sedangkan IHSG BEI turun sebanyak 217,36 poin (3,17%) menjadi 6.633,26 hingga akhir Mei 2023.
Data tersebut juga mengungkap bahwa lima dari 10 saham penekan utama indeks year to date (Ytd) berasal dari saham sektor energi, khususnya batu bara. Kelima saham tersebut antara lain saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) turun 28,6% dan saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) terkoreksi 47%.
Koreksi lainnya juga tetjadi pada saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebanyak 40,4%, saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan pelemahan 43,3%, dan PT Adaro Mineral Indonesia Tbk (ADMR) dengan penurunan 54%.
Terkait prospek saham batu bara ini, Analis Indo Premier Sekuritas Reggie Parengkuan dan Erindra Krisnawan dalam risetnya menyebutkan bahwa performa kinerja keuangan emiten batu bara diprediksi telah mencapai puncaknya pada kuartal I-2023.
Sedangkan kuartal berikutnya diperkiranan tren turun akibat peningkatan biaya penambangan bersamaan dengan rendahnya harga jual batu bara. “Kami menilai masih terlalu dini untuk kembali ke saham batu bara saat ini atau setidaknya sampai performa kinerja kuartal II-2023 terlihat. Oleh karena itu, kami merekomendasikan netral saham batu bara,” tulis riset Indo Premier Sekuritas.
Berdasarkan data, harga batu bara telah terkoreksi 59% menjadi US$ 162 per ton berdasarkan harga Newcastle terhitung sejak awal tahun hingga pertengahan Mei 2023. Sedangkan rata-rata harga jual batu bara di Indonesia telah turun mencapai 19% menjadi US$ 92 per ton. Penurunan ini sudah sesuai dengan prediksi sejalan dengan peningkatan suplai di pasar.
Dengan berbagai faktor tersebut, Parengkuan dan Krisnawan menegaskan terlalu dini untuk balik ke sektor batu bara hingga rilis laporan keuangan kuartal II-III 2023. Melalui rilis tersebut baru bisa dikalkulasi dampak perlambatan ekonomi Tiongkok terhadap pasar batu bara.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






