Jumat, 15 Mei 2026

Wall Street Terkoreksi, Saham-Saham Teknologi Melempem

Penulis : Indah Handayani
6 Jun 2023 | 05:40 WIB
BAGIKAN
Bursa saham New York, AS. (FOTO: AFP)
Bursa saham New York, AS. (FOTO: AFP)

NEW YORK, investor.id – Wall Street terkoreksi pada perdagangan Senin (5/6/2023). Pasca mencatatkan reli dalam beberapa hari perdagangan terakhir. Saham-saham teknologi yang menjadi penggerak Wall Street beberapa hari terakhir melempem. 

Dikutip dari CNBC internasional, S&P kehilangan 0,2% menjadi berakhir pada 4.273,79, sedangkan Nasdaq merosot 0,09% menjadi ditutup pada 13.229,43. Dow Jones Industrial Average turun 199,90 poin, atau 0,59%, menjadi berakhir pada 33.562,86.

Apple kehilangan sekitar 0,8%, mundur dari tertinggi sepanjang masa yang disentuh di awal sesi. Pembuat iPhone pada hari Senin meluncurkan headset realitas virtual yang sangat dinantikan dan banyak pembaruan perangkat lunak di ajang tahunannya, Worldwide Developers Conference.

ADVERTISEMENT

Intel turun 4,6% karena Apple mengungkapkan chip baru. Sementara Nvidia menarik kembali kekhawatiran penilaian setelah lonjakan baru-baru ini. JPMorgan Chase dan Goldman Sachs   berjuang di tengah berita bahwa regulator sedang mempertimbangkan untuk menaikkan persyaratan modal di bank-bank besar.

“Pasar menarik napas setelah reli pada Jumat (2/6/2023). Ini adalah hari berita yang sangat loyo, yang bukan merupakan hal yang buruk karena kami menggabungkan beberapa dari keuntungan besar yang kami miliki baru-baru ini,” kata Ryan Detrick, kepala strategi pasar di Carson Group.  

Saham menguat minggu lalu karena laporan pekerjaan Mei pada Jumat memberi isyarat kepada beberapa investor bahwa resesi yang telah lama diantisipasi mungkin tidak lagi terjadi pada ekonomi atau setidaknya didorong hingga 2024. Pengesahan tagihan plafon utang juga meningkatkan sentimen investor.

"Apa yang dilakukan pasar,saya pikir tepat, tetapi ada hal-hal yang belum kita ketahui dan masalah besarnya adalah The Fed," kata Mohamed El-Erian. 

Kepala Penasihat Ekonomi Allianz mencatat saat utang besar dan ketakutan perbankan telah menghilang, yang terjadi selanjutnya bergantung pada target Federal Reserve untuk menurunkan inflasi. Pasar akan terlihat cukup murah jika bank sentral mengakui bahwa 2% adalah target yang salah.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia