Jumat, 15 Mei 2026

Jelang Hajatan Akbar, Begini Prospek Saham PTBA

Penulis : Parluhutan Situmorang
9 Jun 2023 | 15:27 WIB
BAGIKAN
Kegiatan penambangan batu bara di area PTBA, Sumatra Selatan. (B Universe Photo/Mohammad Defrizal)
Kegiatan penambangan batu bara di area PTBA, Sumatra Selatan. (B Universe Photo/Mohammad Defrizal)

JAKARTA, Investor.id – Menjelang Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 15 Juni 2023, sejumlah investor mulai memburu saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Aksi tersebut datang dari investor pemburu dividen.

Hal ini dinilai masuk akal karena laba bersih perusahaan anggota holding MIND ID ini mencapai Rp 12,6 triliun sepanjang 2022 atau naik 59,5% dari realisasi tahun 2021 senilai Rp 7,9 triliun. Sementara itu. Earnings Before Interest Tax Depreciation & Amortization (EBITDA) melesat hingga 52,6% menjadi Rp 17,7 triliun.

PTBA sebelumnya dalam pengumuman keterbukaan informasi menyebutkan bahwa perseroan akan menggelar RUPS pada 24 Mei 2023, namun diundur menjadi pada 15 Juni 2023. Hajatan besar ini akan membahas tujuh acara rapat. Di antaranya, persetujuan laporan tahunan dan pengesahan laporan keuangan konsolidasian serta penetapan penggunaan laba bersih untuk dividen tahun buku 2022.

ADVERTISEMENT

Terkait prospek perseroan, manajemen PTBA menyebutkan bahwa tantangan utama terletak pada kenaikan harga pokok penjualan, sehingga manajemen terus berupaya memaksimalkan potensi pasar dalam negeri dan peluang ekspor, serta efisiensi secara terukur di semua lini demi mempertahankan kinerja positif.

“Harga Pokok Penjualan mengalami kenaikan, di antaranya karena biaya jasa penambangan, bahan bakar, royalti, angkutan kereta api. Karena itu, PTBA terus berupaya memaksimalkan potensi pasar di dalam negeri serta peluang ekspor untuk mempertahankan kinerja positif," ujar Direktur SDM PTBA Suherman, belum lama ini.

Prospek Saham

Lalu, sejauh mana saham PTBA bisa bergerak menjelang RUPS dan melihat kondisi pasar batu bara saat ini? Ciptadana Sekuritas dalam laporan riset baru-baru ini menyebutkan bahwa pertumbuhan pendapatan PTBA mengungguli emiten batu hitam lainnya, seperti PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) hingga PT Kideco Jaya Agung (Kideco) yang merupakan bagian dari PT Indika Energy Tbk (INDY). Pada kuartal I-2023, ITMG mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 12% dan Kideco naik 17%.

Sedangkan ke depan, kinerja bisnis PTBA akan ditopang oleh kinerja operasionalnya yang akan terus membaik. Pada kuartal I-2023, nisbah kupas atau dikenal dengan Stripping Ratio (SR) konsolidasian PTBA berada berada di 7,1x. Namun dalam beberapa kuartal ke depan SR PTBA diekspektasikan menurun.

“Kami perkirakan stripping ratio kembali normal pada kuartal selanjutnya sesuai dengan pedoman yang diberikan oleh perseroan sebesar 6,3x, setelah aktivitas pra-pengupasan di tambang Air Laya menjadi normal di kuartal berikutnya” tulis Ciptadana Sekuritas dalam risetnya.

Stripping ratio merupakan salah satu indikator operasional perusahaan yang mengindikasikan rasio jumlah material yang harus dikupas (overburden removal) untuk mendapatkan bijih atau material yang diinginkan.

Stripping ratio juga menunjukkan beban operasional dalam industry pertambangan. Semakin tinggi rasionya, maka bebannya pun akan semakin besar dan dapat menggerus laba. Untuk kasus PTBA, penurunan stripping ratio akan menjadi katalis positif untuk profitabilitas perseroan.

Selain kemampuan perseroan dalam mencapai target operasionalnya, seperti pencapaian volume penjualan serta upaya untuk menekan beban dengan penurunan stripping ratio, PTBA didukung likuiditas kuat.

Perseroan mencatatkan posisi kas dan setara kas perseroan pada kuartal I-2023 yang mencapai Rp 15,5 triliun atau setara dengan 46,4% dari total aset.  Secara historis kondisi likuiditas yang tercermin dari kas dan setara kas PTBA juga terus mengalami perbaikan.

Porsi kas dan setara kas terhadap total aset meningkat pesat. Untuk diketahui porsi kas dan setara kas PTBA terhadap total aset pada akhir 2022 mencapai 45,4% atau meningkat dari 36,1% pada akhir 2021 dan nyaris dua kali lipat dibandingkan dengan tahun 2020.

Dapat dibayangkan hampir 50% aset PTBA merupakan aset yang likuid. Dengan kekuatan likuiditas yang besar, maka hal tersebut dapat meningkatkan nilai tambah bagi pemegang saham termasuk MIND ID melalui pembagian dividen.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 12 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 23 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 27 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia