Data Penjualan Ritel Tekan Rupiah
JAKARTA, investor.id – Analis Pasar Mata Uang Lukman Leong menyatakan rupiah melemah karena masih tertekan oleh data penjualan ritel yang dirilis Selasa (13/6), yang dinilai mengecewakan.
“Penjualan ritel hanya naik 1,5%, lebih rendah dari perkiraan 5%. Menggarisbawahi permintaan domestik yang masih lemah,” katanya dalam laporan Antara, Rabu (14/6).
Selain itu, rupiah juga tertekan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS) setelah data menunjukkan inflasi inti negara tersebut masih bertahan di atas 5%.
Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu pagi melemah 0,08% atau 12 poin menjadi Rp 14.875 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 14.863 per dolar AS.
Kendati inflasi utama sudah mencapai level terendah dalam dua tahun, investor masih cenderung wait and see menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) malam ini.
“Naiknya imbal obligasi AS mencerminkan ekspektasi suku bunga dari the Fed. Namun ini seharusnya hanya sementara menjelang pertemuan FOMC malam ini,” kata Lukman.
Hari ini, pasar mata uang memang cenderung mix, terutama mata uang Asia.
“Mata uang utama dunia masih menguat terhadap dolar AS, namun mata uang Asia bergerak mix. Rupiah, ringgit, dan peso melemah, sedangkan Singapore Dollar (SGD) dan baht Thailand menguat,” ucapnya.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






