Jelang Dividen dan Tren Harga Batu Bara, Begini Prospek Saham Bukit Asam (PTBA)
JAKARTA, Investor.id – Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memutuskan secara resmi dividen tahun buku 2022 mencapai Rp 12,56 triliun. Angka tersebut mencerminkan rasio dividen 100% dari pencapaian keuntungan tahun lalu.
Nantinya setiap pemegang satu saham PTBA berhak mendapatkan dividen Rp 1.094. Angka tersebut merefleksikan dividend yield sebanyak 30,14%. Bahkan, yield tersebut merupakan yang terbesar diberikan emiten yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Terkait pergerakan harga setelah putusan dividen? Secara historis, harga sahama akan berfluktuasi, termasuk PTBA, menjelang cum date dividen. Saham PTBA bisa turun signifikan pada ex date atau tanggal perdagangan saham tanpa hak dividen.
Hal ini perlu menjadi pertimbangan pemodal yang berkeinginan untuk meraup cuan dari dividen perusahaan batu bara pelat merah ini. Hal ini untuk menghindari kerugian akibat dividend trap. Meski demikian, investor perlu mengetahui lebih detil prospek bisnis ini, khususnya harga batu bara.
Berdasarkan data harga batubara sudah turun setelah mencapai puncak pada 2020-2021. Meski demikian tetap terbuka peluang rebound didukung faktor el nino berkepanjangan yang diprediksi terjadi tahun ini.
El Nino adalah suatu fenomena di mana suhu permukaan laut mengalami peningkatan di atas kondisi normal. Hal ini menyebabkan gelombang panas dan banyak kekeringan.
Kebutuhan Energi
Cuaca el nino bisa berimbas terhadap lonjakan kebutuhan listrik, karena peningkatan penggunaan pendingin ruangan maupun kebutuhan lainnya. Alhasil, konsumsi batu bara untuk pembangkit listrik akan semakin besar.
Pekan lalu saja, harga batu bara acuan di pasar ICE Newcastle (Australia) untuk kontrak Juli 2023 mulai menanjaki dengan lompatan 7,12% secara point-to-point (ptp) ke level US$ 143,7 per ton.
Lonjakan tersebut ditopang faktor pengiuatan harga gas alam serta krisis energi di Bangladesh. Namun, penguatan harga batu bara masih cenderung tertahan akibat perlambatan permintaan dari Tiongkok setelah ekonomi negara tersebut melambat.
Peluang rebound harga batu bara tentu akan berimbas terhadap lonjakan pendapatan PTBA. Pada kuartal I-2023, PTBA mencatatkan peningkatan produksi batu bara sebanyak 7% secara tahunan menjadi 6,8 juta ton.
Dari sisi penjualan, total volume sales batu bara PTBA mencapai 8,8 juta ton atau tumbuh 26%, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya hanya 7 juta ton. Di saat yang sama, rata-rata harga jual batu bara PTBA atau yang dikenal dengan average selling price (ASP) tetap stabil di Rp 1,1 juta per ton.
Akibat dari stabilnya harga jual serta peningkatan volume penjualan yang signifikan tersebut mendorong pendapatan PTBA melesat sebanyak 21% secara tahunan menjadi Rp 10 triliun.
Ke depan, kinerja bisnis PTBA akan ditopang oleh kinerja operasionalnya yang akan terus membaik. Pada kuartal I-2023, nisbah kupas atau dikenal dengan Stripping Ratio (SR) konsolidasian PTBA berada berada di 7,1x.
"Kami perkirakan stripping ratio akan kembali normal pada kuartal selanjutnya sesuai dengan pedoman yang diberikan oleh perseroan sebesar 6,3x, setelah aktivitas pra-pengupasan di tambang Air Laya menjadi normal di kuartal berikutnya" tulis Ciptadana Sekuritas dalam laporan risetnya.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





