Jumat, 15 Mei 2026

Jelang Dividen dan Tren Harga Batu Bara, Begini Prospek Saham Bukit Asam (PTBA)

Penulis : Parluhutan Situmorang
16 Jun 2023 | 08:18 WIB
BAGIKAN
Kegiatan penambangan batu bara di area PTBA, Sumatra Selatan. (B Universe Photo/Mohammad Defrizal)
Kegiatan penambangan batu bara di area PTBA, Sumatra Selatan. (B Universe Photo/Mohammad Defrizal)

JAKARTA, Investor.id –  Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memutuskan secara resmi dividen tahun buku 2022 mencapai Rp 12,56 triliun. Angka tersebut mencerminkan rasio dividen 100% dari pencapaian keuntungan tahun lalu.

Nantinya setiap pemegang satu saham  PTBA berhak mendapatkan dividen Rp 1.094. Angka tersebut merefleksikan dividend yield sebanyak 30,14%. Bahkan, yield tersebut merupakan yang terbesar diberikan emiten yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Terkait pergerakan harga setelah putusan dividen? Secara historis, harga sahama akan berfluktuasi, termasuk PTBA, menjelang cum date dividen. Saham PTBA bisa turun signifikan pada ex date atau tanggal perdagangan saham tanpa hak dividen.

ADVERTISEMENT

Hal ini perlu menjadi pertimbangan pemodal yang berkeinginan untuk meraup cuan dari dividen perusahaan batu bara pelat merah ini. Hal ini untuk menghindari kerugian akibat dividend trap. Meski demikian, investor perlu mengetahui lebih detil prospek bisnis ini, khususnya harga batu bara.   

Berdasarkan data  harga batubara sudah turun setelah mencapai puncak pada 2020-2021. Meski demikian tetap terbuka peluang rebound didukung faktor el nino berkepanjangan yang diprediksi terjadi tahun ini.

El Nino adalah suatu fenomena di mana suhu permukaan laut mengalami peningkatan di atas kondisi normal. Hal ini menyebabkan gelombang panas dan banyak kekeringan.

Kebutuhan Energi

Cuaca el nino bisa berimbas terhadap lonjakan kebutuhan listrik, karena peningkatan penggunaan pendingin ruangan maupun kebutuhan lainnya. Alhasil, konsumsi batu bara untuk pembangkit listrik akan semakin besar.

Pekan lalu saja,  harga batu bara acuan di pasar ICE Newcastle (Australia) untuk kontrak Juli 2023 mulai menanjaki dengan lompatan 7,12% secara point-to-point (ptp) ke level US$ 143,7 per ton.

Lonjakan tersebut ditopang faktor pengiuatan harga gas alam serta krisis energi di Bangladesh. Namun, penguatan harga batu bara masih cenderung tertahan akibat perlambatan permintaan dari Tiongkok setelah ekonomi negara tersebut melambat.

Peluang rebound harga batu bara tentu akan berimbas terhadap lonjakan pendapatan PTBA. Pada kuartal I-2023, PTBA mencatatkan peningkatan produksi batu bara sebanyak 7% secara tahunan menjadi 6,8 juta ton.

Dari sisi penjualan, total volume sales batu bara PTBA mencapai 8,8 juta ton atau tumbuh 26%, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya hanya 7 juta ton. Di saat yang sama, rata-rata harga jual batu bara PTBA atau yang dikenal dengan average selling price (ASP) tetap stabil di Rp 1,1 juta per ton.

Akibat dari stabilnya harga jual serta peningkatan volume penjualan yang signifikan tersebut mendorong pendapatan PTBA melesat sebanyak 21% secara tahunan menjadi Rp 10 triliun.

Ke depan, kinerja bisnis PTBA akan ditopang oleh kinerja operasionalnya yang akan terus membaik. Pada kuartal I-2023, nisbah kupas atau dikenal dengan Stripping Ratio (SR) konsolidasian PTBA berada berada di 7,1x.

"Kami perkirakan stripping ratio akan kembali normal pada kuartal selanjutnya sesuai dengan pedoman yang diberikan oleh perseroan sebesar 6,3x, setelah aktivitas pra-pengupasan di tambang Air Laya menjadi normal di kuartal berikutnya" tulis Ciptadana Sekuritas dalam laporan risetnya.  

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 15 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 19 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 1 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia