Harga CPO Lanjutkan Pelemahan
JAKARTA, investor.id – Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives lanjutkan pelemahan pada perdagangan Rabu (5/7/2023). Dengan demikian, harga CPO melemah dalam dua hari beruntun.
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Rabu (5/7/2023), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Juli 2023 turun 15 menjadi 3.800 Ringgit Malaysia per ton. Untuk kontrak berjangka CPO pengiriman Agustus 2023 terkoreksi 34 Ringgit Malaysia menjadi 3.857 Ringgit Malaysia per ton.
Sementara itu, kontrak berjangka CPO pengiriman September 2023 jatuh 21 Ringgit Malaysia menjadi 3.862 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO pengiriman Oktober 2023 berkurang 8 Ringgit Malaysia menjadi 3.866 Ringgit Malaysia per ton.
Sedangkan kontrak berjangka pengiriman CPO November naik 5 Ringgit Malaysia menjadi 3.876 Ringgit Malaysia per ton. Untuk kontrak berjangka CPO pengiriman Desember 2023 bertambah 13 Ringgit Malaysia menjadi 3.890 Ringgit Malaysia per ton.
Research & Development ICDX Girta Yoga menjelaskan, harga CPO terkoreksi dipengaruhi rilisnya data ekspor CPO Malaysia periode awal Juli (1-5), perubahan kebijakan di Indonesia khususnya terkait ekspor CPO, gangguan cuaca di negara produsen utama yang dipicu oleh El Nino, situasi di negara konsumen utama (India, Tiongkok dan Uni Eropa), serta situasi di pasar minyak nabati.
“Sepanjang semester-I 2023, harga CPO terpantau bergerak melemah atau turun hampir 12% jika dibandingkan antara harga CPO di awal tahun dengan harga penutupan di bulan Juni,” ungkap Yoga kepada Investor Daily, belum lama ini.
Untuk harga CPO di semester-II 2023, Yoga memprediksi menguat didukung oleh katalis utama seperti gangguan cuaca akibat El Nino yang berpotensi mengancam pasokan, tidak hanya pasokan CPO namun juga minyak nabati global. Selain itu, isyarat Rusia untuk tidak melanjutkan kesepakatan ekspor via Laut Hitam berpotensi mendorong kenaikan harga minyak nabati, yang secara tidak langsung juga dapat memicu kenaikan untuk harga CPO.
Meski demikian, Yoga menilai penguatan harga CPO akan sedikit terhalang dengan harapan pemulihan ekonomi di global makin menipis, Sebab, mayoritas permintaan CPO diperuntukkan untuk industri makanan, kimia serta bahan bakar biodiesel. “Ketiga sektor tersebut sangat berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi, saat ekonomi melesu maka permintaan pun akan ikut berkurang,” tutupnya.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






