Vale (INCO) Diprediksi Lebih Unggul, Sahamnya Jadi Top Picks
JAKARTA, investor.id – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menjadi saham pilihan teratas untuk sektor perusahaan tambang dan pengolahan nikel terintegrasi. Target harga tersebut mempertimbangkan bahwa Vale satu-satunya perusahaan nikel dari dalam negeri yang menggunakan acuan harga jual nikel LME.
Sedangkan perusahaan nikel lainnya cenderung menggunakan acuan harga jual nikcel pig iron (NPI). Sebagaimana diketahui rata-rata penurunan nikel di LME lebih rendah mencapai 14% pada kuartal II-2023 dibandingkan dengan penurunan harga nickel pig iron (NPI) Tiongkok mencapai 20%.
“Kami mempertahankan saham INCO sebagai pilihan teratas untuk sektor produsen nikel. Sedangkan penurunan harga saham dalam beberapa hari terakhir hanya bersifat jangka pendek dipengaruhi rencana divestasi saham INCO kepada pemerintah,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas Hasan Barakwan dalam riset yang diterbitkan hari ini.
Terkait penurunan harga NPI yang lebih dalam, menurut dia, akibat lambatnya pemulihan ekonomi Tiongkok yang berimbas terhadap penurunan permintaan baja nirkarat (stainless steel). Namun, tidak demikian dengan harga nikel LME dengan penurunan relatif masih terkendali.
Oleh karena itu, menurut dia, kinerja keuangan perusahaan tambang nikel nasional yang menggunakan acuan harga LME akan lebih baik yang diharapkan membuat sahamnya lebih atraktif, dibandingkan dengan produsen NPI yang kini tengah menderita akibat penurunan dalam harga NPI Tiongkok.
“INCO satu-satunya perusahaan yang menggunakan harga jual acuan LME, sehingga diprediksi margin keuntungan perseoran akan lebih unggul, dibandingkan produsen lainnya,” tulisnya.
Selain harga, dia menjelaskan, Vale Indonesia didukung volume produksi lebih solid tahun ini dengan target mencapai 70 ribu ton pada 2023. Sedangkan volume produksi semester I-2023 diprediksi mencpai 33.539 ton atau berkisar 48% dari target tahun ini.
“Kami meyakini bahwa INCO bisa mencapai target produksi 70 ribu ton tersebut, seiring upaya perseroan untuk menaikkan volume produksi pada paruh kedua tahun ini,” terangnya.
Divestasi Saham
Hasan mengatakan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkan target paling lambat penyampaian harga divestasi saham INCO pada akhir 2024. “Namun kami memprediksi penyelesaian divestasi tersebut diharapkan bisa lebih cepat dari target yang ditetapkan atau akhir tahun ini,” terangnya.
Vale Indonesia diminta untuk mendivestasi sebanyak 11% saham untuk mengubah kontrak kerja pertambangan menjadi pertambangan khusus. Sedangkan pemerintahmelalui MIND ID berencana mengambilalih saham divestasi tersebut, sehingga menjadikannya sebagai pemegang saham pengendali.
Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham INCO dengan target harga Rp 8.500. Saham INCO juga ditetapkan sebagai pilihan teratas untuk saham sektor pertambangan mineral.
BRI Danareksa Sekuritas menargetkan peningkatan laba bersih Vale menjadi US$ 266 juta pada 2023, dibandingkan tahun lalu US$ 200 juta. Begitu juga dengan pendapatan diprediksi meningkat menjadi US$ 1,26 miliar pada 2023, dibandingkan tahun 2022 sebanyak US$ 1,17 miliar.
Sebelumnya, pemerintah menginginkan MIND ID sebagai pemegang mayoritas saham Vale Indonesia melalui skema divestasi. Adapun porsi pelepasan saham Vale saat ini sebesar 11%.
Komposisi saham Vale Indonesia saat ini dimiliki Vale Canada Limited sebesar 43,79%, MIND ID sebanyak 20%, Sumitomo Metal Mining Co. Ltd sebesar 15,03%, dan masyarakat/publik sebanyak 20,49%. Jika MIND ID mengakuisisi saham 11% tersebut, total kepemilikan menjadi 31%.
Vale Indonesia merupakan perusahaan tambang dan pengolahan nikel terintegrasi yang beroperasi di Blok Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Perusahaan asal Kanada itu mengantongi Kontrak Karya pada 1968. Vale telah mendapatkan perpanjangan pertama pada Januari 1996. Kini masa konsensi Vale berakhir pada 28 Desember 2025
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






