Pertamina Geothermal (PGEO) Siapkan Green Bonds US$ 500 Juta
JAKARTA, investor.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) berencana menerbitkan green bonds senilai US$ 500 juta pada akhir 2024 untuk memperkuat kapasitas produksi panas bumi terpasang sebesar 350 megawatt dalam dua tahun ke depan. Perseroan berambisi menjadi operator geotermal terbesar di Indonesia dan kedua di Asia dengan kapasitas produksi mencapai 1 gigawatt.
Direktur Keuangan Pertamina Geothermal Energy Nelwin Aldriansyah mengungkapkan bahwa saat ini perseroan memiliki kapasitas panas bumi terpasang sebesar 672 megawatt (MW) dan akan terus ditingkatkan menjadi 1 gigawatt. Dengan masuknya pemegang saham dan manajemen baru, perseroan akan mengakselerasi realisasi target tersebut dari semula lima tahun menjadi dua tahun.
“Jadi ada tambahan sekitar 340 MW dalam dua tahun ke depan. Kita sudah identifikasi dari 110 MW di area Hululais dan 55 MW di Lumut Balai. Saat ini, keduanya sedang kita kerjakan. Untuk Lumut Balai sudah ada Engineering Procurement Construction, and Commissioning (EPCC) kontraknya dan sedang berjalan dari konsorsium Mitsubishi Corporation,” jelas Nelwin di acara editorial roundtable, di Jakarta, Rabu (26/7/2023).
Sementara itu, untuk area Hululais, Nelwin mengatakan, Pertamina Geothermal sedang mempersiapkannya bersama para pemangku kepentingan. Untuk mengoptimalisasikan sumur, perseroan juga menggunakan binary power plant. Sebab, setelah diidentifikasi, di area Hululais bisa dikembangkan binary power plant dengan kapasitas 60 MW, Ulubelu 45 MW, dan Lumut Balai 45 MW.
Menurut Nelwin, penggunaan teknologi binary power plant dapat meningkatkan produksi secara cepat dan teknologi submersible pump yang sebelumnya tidak digunakan perseroan untuk membantu untuk mengatasi beberapa masalah salah satunya yang terjadi di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Karaha yang alirannya tidak sebesar kapasitas terpasangnya.
Karena itu, papar Nelwin, kini emiten berkode saham PGEO tersebut tengah mengkaji pemanfaatan teknologi submersible pump yang diterapkan di beberapa perusahaan geotermal dunia untuk membantu perseroan meningkatkan aliran agar bisa mencapai intended install capacity-nya.
“Jadi, dari total akselerasi ini kita berharap dua tahun ke depan atau akhir 2024 atau selambat-lambatnya awal 2025, kita memiliki tambahan kapasitas 340 MW. Dengan demikian, instal capacity kita sudah lebih dari 1 gigawatt di Indonesia. Ini akan menempatkan PGEO sebagai operator geothermal terbesar di Indonesia bahkan terbesar kedua di Asia setelah Filipina,” imbuhnya.
Di samping fokus mengembangkan kapasitas produksi, Nelwin menuturkan, perseroan juga sedang fokus mengembangkan aset-aset wilayah kerja di Sumatera untuk dijadikan sebagai hub baru bagi sumber daya listrik Indonesia.
Terlebih, Sumatera berada di posisi strategis karena berdekatan dengan negara-negara Asean seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Jika regulasinya memungkinkan, Nelwin menyatakan, target Sumatera sebagai hub bisa diakselerasi untuk menjadi salah satu sumber bagi perseroan berekspansi ke pasar ekspor listrik.
Sisa dana IPO
Nelwin menyebutkan, sisa IPO proceed yang siap digunakan perseroan sekitar US$ 450 juta setelah US$ 100 juta dipakai untuk membayar utang dan US$ 25 juta sebagai belanja modal (capital expenditure/capex).
“Jadi, untuk modal awal pembangunan 340 MW kita akan menggunakan IPO proceed yang kita miliki. Sementara sisanya atau kekurangannya sekitar US$ 500 juta akan dikombinasikan dengan internal cash dari cash flow operation dan penerbitan green bonds baru untuk organic growth di akhir 2024 atau selambatnya awal 2025,” bebernya.
Demi menjaga komitmen perseroan dalam membagikan dividen, Nelwin juga bilang, perseroan optimistis dapat mempertahankan free cash flow di atas US$ 100 juta. Apalagi, selama tiga tahun terakhir, rata-rata free cash flow perseroan konsisten berada di atas US$ 200 juta per tahun dari biaya operasi.
“Jadi tahun lalu sekitar 260 juta dan kita merencanakan pembagian dividen itu sampai 50% dari laba bersih. Jadi setelah pembagian dividen kita optimistis free cashflow kita masih berada di US$ 100 juta,” tandas Nelwin.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






