Kinerja Tower Bersama (TBIG) Turun, Ternyata Gara-gara Ini
JAKARTA, Investor.id – PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) membukukan penurunan laba bersih sebanyak 16,62% menjadi Rp Rp 688,79 miliar pada semester I-2023, dibandingkan periode sama tahun lalu mencapai Rp 826,14 miliar.
Penurunan laba tersebut sejalan dengan pelemahan tipis pendapatan dari Rp 3,3 triliun menjadi Rp 3,28 triliun pada semester I-2023. Di sisi lain, EBITDA perusahaan tercatat sebesar Rp 2,84 triliun sepanjang Januari-Juni 2023.
“Jika kuartal kedua ini disetahunkan, maka total pendapatan dan EBITDA perseroan masing-masing mencapai Rp 6,64 triliun dan Rp 5,79 triliun,” tulis Direktur Keuangan Tower Bersama Infrastructure Helmy Yusman dalam keterangan resmi, Selasa (1/8/2023).
Kinerja keuangan tersebut didukung atas penyewa sebanyak 41.428 dan 22.136 sites telekomunikasi per 30 Juni 2023. Sites telekomunikasi milik perseroan terdiri atas 22.026 menara telekomunikasi dan 110 jaringan distributed antenna system (DAS).
Dengan angka total penyewaan pada menara telekomunikasi sebanyak 41.318, maka rasio kolokasi (tenancy ratio) perseroan menjadi 1,88x. “Dengan senang hati kami melaporkan, semester yang kuat untuk pertumbuhan organik dengan penambahan 1.605 penyewaan kotor yang terdiri dari 347 sites telekomunikasi dan 1,258 kolokasi,” ujar CEO Tower Bersama Infrastructure Hardi Wijaya Liong.
Dia menjelaskan, rendahnya penambahan penyewaan bersih dari group pada paruh pertama tahun ini dipengaruhi beberapa penyewaan yang habis masa sewanya. Tidak diperpanjang oleh Indosat, karena perusahaan tersebut telah mengkonfigurasi ulang jaringan setelah merger antara Indosat dan Hutchison 3 Indonesia.
Per 30 Juni 2023, total pinjaman kotor (gross debt) perseroan adalah sebesar Rp 26,91 triliun. Jika bagian pinjaman dalam mata uang US Dollar yang telah dilindung nilai diukur dengan menggunakan kurs lindung nilainya. Sedangkan total pinjaman senior (gross senior debt) sebesar Rp 3,73 triliun.
Dengan saldo kas mencapai Rp 909 miliar, maka total pinjaman bersih (net debt) TBIG menjadi Rp 26 triliun dan total pinjaman senior bersih (net senior debt) menjadi Rp 2,82 triliun. Menggunakan EBITDA kuartal II-2023 yang disetahunkan, rasio pinjaman bersih terhadap EBITDA adalah 4,5x.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler



