Jumat, 15 Mei 2026

Indika Energy (INDY) Buka-bukaan Kinerja, Batu Bara Dibahas Rinci!

Penulis : Muhammad Ghafur Fadillah
2 Aug 2023 | 15:12 WIB
BAGIKAN
PT Kideco Jaya Agung, anak usaha PT Indika Energy Tbk (INDY). (Perseroan)
PT Kideco Jaya Agung, anak usaha PT Indika Energy Tbk (INDY). (Perseroan)

JAKARTA, investor.id - PT Indika Energy Tbk (INDY) merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar US$ 70,9 juta pada semester I-2023.

Vice President Director dan Group CEO Indika Energy, Azis Armand mengatakan, rincian penggunaan capex yakni US$ 5,7 juta di antaranya adalah untuk Indika Indonesia Resources, dan Kideco sebesar US$ 3,4 juta.

Pada bisnis baru non-batubara, capex terutama digunakan untuk sektor mineral terutama untuk proyek Awakmas sebesar US$ 39,1 juta, IMG sebesar US$ 6,0 juta, dan Indika Nature sebesar US$ 5,3 juta.

Azis menuturkan bahwa sepanjang semester pertama 2023, perseroan terus memperkuat performa environmental, social, and governance (ESG) juga diversifikasi di sektor non-batubara – termasuk dalam bidang energi baru dan terbarukan, kendaraan listrik, dan nature-based solutions.

ADVERTISEMENT

“Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk melakukan transisi energi nasional, dan selaras dengan aspirasi kami untuk mencapai netral karbon atau net-zero pada tahun 2050. Pada tahun 2022, Indika Energy mencatat penurunan emisi scope 1 dan 2 sebesar 14,0%. Selain itu, Indika Energy berkomitmen untuk terus mengembangkan investasi di sektor non-batubara,” jelas Azis dalam keterangannya, Rabu (2/8/2023).

Unit usaha yang digarap oleh anak usaha Indika Energy, yakni IMG telah meluncurkan kendaraan roda dua elektrik kedua, bernama ALVA Cervo. Model baru yang mengusung konsep sporty ini memiliki beberapa peningkatan dari ALVA One seperti top speed 103 kph dan driving range yang bisa mencapai hingga 125 km.

Untuk memperkuat pemasaran, saat ini IMG telah mengoperasikan dua experience centers di SCBD, Jakarta  dan Kuta, Bali dan akan segera membuka empat outlet lagi di Kelapa Gading, Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Semarang.

Batu Bara

Indika Energy (INDY) mencatatkan penurunan laba bersih 55,2% jadi US$ 89,8 juta pada semester I-2023, dari sebelumnya US$ 200,7 juta di periode yang sama tahun lalu. Sedangkan laba Inti tercatat sebesar US$ 114,4 juta.

Koreksi laba sejalan dengan raihan pendapatan pada semester pertama 2023 ynag juga susut 13,7% menjadi US$ 1.673,2 juta.

Azis Armand menjelaskan, penurunan pendapatan berasal dari menurunnya target volume produksi FY23 Kideco Jaya Agung (Kideco) menjadi 31 juta ton akibat berbagai sebab di antaranya yakni sesuai persetujuan pemerintah untuk menurunkan produksi, curah hujan yang tinggi, dan turunnya produktivitas kontraktor yang berdampak pada operasional pertambangan batu bara di Kideco.

Azis merinci, pada periode tersebut, volume penjualan batu bara Kideco turun sebesar 11,7% menjadi 15 juta ton. Dari volume tersebut, Kideco memasarkan 4,4 juta ton atau 29% di antaranya untuk pasar domestik, atau tetap melebihi domestic market obligation (DMO) batu bara sebesar 25%.

Sementara itu, volume penjualan batu bara untuk pasar ekspor mencapai 10,6 juta ton dengan negara tujuan China, India, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Akan tetapi, Kideco mencatat harga jual batu bara yang relatif stabil di US$ 82,3 per ton pada 6M 2023 dibandingkan penurunan harga rata-rata batu bara ICI-4 yang digunakan sebagai benchmark yaitu sebesar 17,9% menjadi US$ 70,5 per ton pada 6M 2023 dari US$ 85,9 per ton pada 6M 2022.

Selanjutnya pada unit anak usaha, Indika Indonesia Resources mencatat penurunan pendapatan sebesar 27,0% menjadi US$ 275,4 juta pada 6M 2023 dari periode yang sama sebelumnya sebesar US$ 377,3 juta, didorong oleh penurunan volume perdagangan batu bara menjadi 1,7 juta ton dan penurunan harga jual batu bara sebesar 1,9% menjadi US$ 72,6 per ton.

Akan tetapi, pendapatan Multi Tambang Jaya Utama (MUTU) meningkat 19,2% menjadi US$ 146,8 juta yang didorong oleh kenaikan volume penjualan batu bara sebesar 54,1% menjadi 1 juta ton dengan harga jual rata-rata batu bara sebesar US$ 148,1 per ton.

Kemudian, Tripatra mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 5,1% menjadi US$ 127,2 juta pada semester pertama 2023 akibat dari menurunnya pendapatan dari proyek BP Tangguh sebesar 12,2% menjadi US$ 105,0 juta.

Namun demikian, perusahaan logistik terintegrasi Interport Mandiri Utama (Interport) mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 239,7% menjadi US$ 57,0 juta pada 6M 2023, di mana US$ 13,9 juta di antaranya berasal dari usaha logistik laut Cotrans sebesar US$ 34,2 juta dan terminal penyimpanan bahan bakar Kariangau Gapura Terminal Energi (KGTE) sebesar US$ 13,9 juta pada periode yang sama.

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 15 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 19 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 1 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia