Jumat, 15 Mei 2026

Surya Biru (SBMA) Rambah Bisnis Area Shipyard dan Petrokimia, Penjualan bakal Melesat

Penulis : Muhammad Ghafur Fadillah
3 Aug 2023 | 10:53 WIB
BAGIKAN
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA)
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA)

JAKARTA, Investor.id - Emiten yang bergerak di industri kimia anorganik gas, PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA), mempertahankan pertumbuhan kinerja positif setelah volume produksi melesat pada Juni 2023.

Direktur Utama SBMA mengatakan Rini Dwiyanti, perseroan telah mencatatkan pertumbuhan produksi yang kuat hingga Juni 2023, sehingga penjualan naik 13% menjadi Rp 52,8 miliar.“Peningkatan ini dipengaruhi oleh penjualan gas acetylene dan Karbondioksida,” ujar Rini dala keteranganya, Kamis (3/8/23).

Dari sisi bisnis, SBMA telah melakukan commercial startup air separation plant  pada 27 Juni 2023 dan saat ini produksi liquid perseroan mencapai kapasitas 50 ton sehari. Namun produksi dan penjualan mulai terasa di Juli dan akan terlihat pada kinerja kuartal III-2023. Proyek ini merupakan realisasi atas penggunaan dana IPO.

ADVERTISEMENT

Didukung pertumbuhan bisnis dan peningkatan kapasitas produksi likudi, menurut dia, perseroan optimistis terhadap pertumbuhan kinerja keuangan tahun ini sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

Rini menambahkan, perseroan memiliki market share yang stabil dan peluang bisnis yang luas. Perseroan menerima banyak permintaan liquid diantaranya proyek Kawasan Industri Kalimantan yang merupakan proyek pemerintah. Momen peningkatan ini bertepatan dengan commissioning air separation plant Perseroan. Melihat ke belakang, perseroan mengalami peningkatan pada sektor Manufaktur Liquid sebesar 5% dan akan terus meningkat setiap bulan.

Sedangkan peluang ke depan, perseroan tengah memasuki are shipyard dan petrokimia untuk kebutuhan liquid yang meningkat. “Saat ini, Kami telah mengambil 5% dari pasar liquid yang ada di Kalimantan Timur dan diestimasikan terus meningkat setiap bulan,” kata Rini.

Dari sisi kesehatan finansial, SBMA mampu tetap mengontrol posisi liabilitas jangka pendeknya dimana mengalami penurunan jadi Rp 28,40 miliar per 30 Juni 2023 dari periode akhir tahun 2022 senilai Rp 30,19 miliar. Sehingga jumlah aset perseroan senilai Rp 269,24 miliar itu mayoritasnya masih dikontribusikan oleh ekuitas yang positif di angka Rp 210,52 miliar.

Menariknya untuk periode Januari hingga Juni 2023 ini pos kas yang diperoleh dari aktivitas operasional tercatat positif menjadi pendukung ekuitas senilai Rp3,32 miliar dari sebelumnya minus Rp4,43 miliar.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia