Jumat, 15 Mei 2026

Investor Keluar dari Aset Berisiko Setelah Fitch Turunkan Peringkat Utang AS

Penulis : Grace El Dora
3 Aug 2023 | 12:01 WIB
BAGIKAN
Petugas perbankan menghitung uang pecahan rupiah. (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww/aa)
Petugas perbankan menghitung uang pecahan rupiah. (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww/aa)

JAKARTA, investor.id – Penurunan peringkat utang Amerika Serikat (AS) oleh Fitch Ratings mendorong pelaku pasar keluar dari aset berisiko seperti aset emerging markets, termasuk rupiah.

“(Penurunan yang diberikan) satu notch, AAA jadi AA+,” ujar Pengamat Pasar Uang Ariston Tjendra, dikutip Antara pada Kamis (3/8).

Menurutnya, dampak penurunan ini bisa saja terjadi hanya sementara. Pelaku pasar disebut bakal kembali lagi masuk ke aset berisiko, seperti yang terjadi ketika S&P menurunkan peringkat utang AS pada 2011.

ADVERTISEMENT

“Selama tingkat imbal hasil di emerging markets termasuk Indonesia masih memberikan tingkat imbal hasil dan peluang yang menarik, pelaku pasar akan masuk kembali,” ungkap Ariston.

Senada dengan itu, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menyampaikan penurunan peringkat utang AS oleh Fitch Ratings mengejutkan investor, meskipun ada resolusi krisis plafon utang dua bulan lalu.

“Ini mengutip kemungkinan penurunan fiskal selama tiga tahun ke depan dan mengulangi negosiasi plafon utang yang mengancam kemampuan pemerintah untuk membayar tagihannya,” ucap Ibrahim.

Pada pembukaan perdagangan tadi, Analis Bank Woori Saudara (BWS) Rully Nova mengatakan pelemahan rupiah terhadap dolar AS dipengaruhi kenaikan indeks dolar AS dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.

“(Kenaikan itu) disebabkan oleh wait and see data manufaktur AS dan data tenaga kerja non pertanian (NFP) AS yang akan rilis Jumat (4/8) ini,” katanya.

Selain itu, pergerakan rupiah diprediksi masih akan tertekan karena ekonomi AS semakin menguat dan data manufaktur Tiongkok yang memburuk. Data Purchasing Managers Index (PMI) Tiongkok (versi Caixin) menunjukkan kontraksi 49,2 pada Juli 2023 dari 50,5 pada Juni 2023.

Pada penutupan perdagangan hari, rupiah mengalami pelemahan sebesar 0,39% atau 60 poin menjadi Rp 15.175 per dolar AS dari sebelumnya Rp 15.115 per dolar AS.

Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Senin melemah ke posisi Rp 15.171 dari sebelumnya Rp 15.117.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 13 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 45 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 56 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia