Jumat, 15 Mei 2026

Butuh 8 Bulan, Saham Pertamina Geothermal (PGEO) Sentuh Level Rp 1.000

Penulis : Parluhutan Situmorang
11 Aug 2023 | 10:44 WIB
BAGIKAN
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO), untuk pertama kalinya memiliki pos pendapatan baru dari hasil perdagangan karbon.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO), untuk pertama kalinya memiliki pos pendapatan baru dari hasil perdagangan karbon.

JAKARTA, investor.id –  Saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) akhirnya menembus level Rp 1.000, Jumat (11/8/2023), setelah mencatatkan sahamnya (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 24 Februari 2024. Penguatan harga tersebut didukung pandangan positif terhadap perseroan setelah rilis laporan keuangan semester I-2023.

Berdasarkan data BEI, saham PGEO sempat melesat tertinggi baru di intraday Rp 1.045 dan level terendah sepanjang masa di level Rp 595. Sedangkan level terendah saham ini ditransaksikan di Rp 900. Saham PGEO berhasil ditutup menguat Rp 100 (10,99%) menjadi Rp 1.010 hingga pukul 10.33 WIB.

Level saham PGEO di atas Rp 1.000 tercatat sebagai harga tertinggi atas perdagangan saham anak usaha PT Pertamina tersebut. Ini terhitung sejak listing di BEI awal tahun ini. Pada Februari 2023, Pertamina Geothermal (PGEO) menggelar listing perdana di BEI dengan harga pelaksanaan Rp 875 per saham.

ADVERTISEMENT

Sebelumnya, Direktur Keuangan Pertamina Geothermal Energy Nelwin Aldriansyah mengatakan, Pertamina Geothermal (PGEO) berencana menerbitkan green bonds senilai US$ 500 juta pada akhir 2024 untuk memperkuat kapasitas produksi panas bumi terpasang sebesar 350 megawatt dalam dua tahun ke depan. Perseroan berambisi menjadi operator geotermal terbesar di Indonesia dan kedua di Asia dengan kapasitas produksi mencapai 1 gigawatt.

Saat ini, perseroan memiliki kapasitas panas bumi terpasang sebesar 672 megawatt (MW) dan akan terus ditingkatkan menjadi 1 gigawatt. Dengan masuknya pemegang saham dan manajemen baru, perseroan akan mengakselerasi realisasi target tersebut dari semula lima tahun menjadi dua tahun.

“Jadi ada tambahan sekitar 340 MW dalam dua tahun ke depan. Kita sudah identifikasi dari 110 MW di area Hululais dan 55 MW di Lumut Balai. Saat ini, keduanya sedang kita kerjakan. Untuk Lumut Balai sudah ada Engineering Procurement Construction, and Commissioning (EPCC) kontraknya dan sedang berjalan dari konsorsium Mitsubishi Corporation,” jelas Nelwin. 

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia