Jumat, 15 Mei 2026

Ekspansif ke Fiber Optik,  Mitratel (MTEL) Ciptakan Mesin Pertumbuhan Baru

Penulis : Parluhutan Situmorang
15 Aug 2023 | 10:10 WIB
BAGIKAN
solar panel di menara PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel/MTEL)
solar panel di menara PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel/MTEL)

JAKARTA, Investor.id - Usai sukses menjadi raja menara telekomunikasi, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel kini fokus ekspansi di segmen serat optik melalui skema pembangunan secara organik, akuisisi anorganik, hingga bersinergi dengan induk PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). 

Bisnis fiber optik mulai dijajal MTEL sejak  akhir 2021. Namun, hanya dalam satu tahun, pendatang baru ini berhasil memiliki 27.000 km fiber melalui pembangunan organik dan akuisisi. Bahkan, dalam kurun satu semester, anak usaha Telkom ini telah berhasil membangun infrastruktur fiber sepanjang 10,629 km. 

Pencapaian ini menunjukkan dua hal. Pertama, kemampuan dan kecepatan MTEL dalam melakukan ekspansi. Kedua, tingginya kepercayaan pelaku industri operator seluler atau mobile network operator (MNO) terhadap kapabilitas MTEL di bisnis ini.  

ADVERTISEMENT

“MTEL secara cepat memperkuat posisinya di bisnis fiber dengan 16,6 ribu km di tahun 2022 (10,6 ribu km dari pembangunan organik dan 6 ribu km secara anorganik),” tulis Bob Setiadi, analis CGS-CIMB Sekuritas dalam laporan risetnya. 

Tahun ini, MTEL menargetkan tambahan portofolio fiber optic sepanjang 13 ribu km. Target pembangunan fiber optik sepanjang 13 ribu tersebut sudah masuk dalam anggaran belanja modal atau capital expenditure perseroan yang mencapai Rp 7 triliun untuk tahun ini. 

Dengan tambahan fiber optik sepanjang 13 ribu km tersebut, maka hingga akhir tahun 2023 MTEL berpotensi memiliki 29,6 ribu km serat optik.

Asal tahu saja, MTEL telah memiliki portofolio serat optik sepanjang 27 ribu Km  hingga semester I-2023. Portofolio fiber optic yang dimiliki oleh MTEL saat ini berasal dari 21 ribu km didapat dari pembangunan secara organik dan sisanya 6 ribu km dari akuisisi. 

Bob Setiadi menilai. jika untuk setiap 1 tower membutuhkan 10 km fiber optic, maka hingga akhir tahun 2023 baru ada 8% menara yang terfiberisasi. Oleh sebab itu Bob optimis bahwa prospek binis ini akan cerah untuk MTEL ke depan.

“Kami perkirakan, MTEL akan menambah 13-15 ribu fiber optic per tahun hingga 2025 dan hingga tahun 2025, pendapatan MTEL dari bisnis fiber berpotensi mencapai Rp 574 miliar atau setara dengan 5,5% dari total pendapatan perseroan” tulis Bob. 

Analis meyakini fiber optik menjadi mesin baru pertumbuhan bisnis MTEL dan akan mengubah proporsi revenue. 

Sinergi Induk

 Selain dari pembangunan fiber optic secara organic dan akuisisi, MTEL juga berpeluang untuk saling bersinergi dengan induknya yakni Grup Telkom yang memiliki portofolio fiber sepanjang kurang lebih 170 ribu km menurut Sabrina analis Trimegah Sekuritas. 

Apabila portofolio fiber MTEL dan Telkom digabung ditambah dengan strategi pembangunan fiber perseroan setiap tahunnya, maka panjangnya bisa mencapai lebih dari 200 ribu km dan jauh mengalahkan kompetitornya, yakni TOWR sepanjang 95 ribu km dan TBIG sepanjang 32 ribu km.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 3 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia