Jumat, 15 Mei 2026

Target Harga Saham United Tractors (UNTR) Masih Jauh

Penulis : Thresa Sandra Desfika
26 Sep 2023 | 13:30 WIB
BAGIKAN
Aktivitas anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Pamapersada Nusantara. (Foto ilustrasi: Perseroan)
Aktivitas anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Pamapersada Nusantara. (Foto ilustrasi: Perseroan)

JAKARTA, investor.id - Indo Premier Sekuritas mempertahankan estimasinya terhadap raihan PT United Tractors Tbk (UNTR) untuk FY2023. Pasalnya, angka-angka kinerja anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) itu sampai dengan Agustus 2023 selaras dengan perkiraan mereka.

Analis Indo Premier Sekuritas, Reggie Parengkuan mengungkapkan, produksi batu bara PT Pamapersada Nusantara (PAMA), anak usaha UNTR, terus meningkat menjadi 12,7 juta ton pada Agustus 2023 (+5% mom/+12% yoy).

“Sementara OB (overburden) removal mencapai 115,1 mbcm (+11% mom/+31% yoy), mencerminkan rasio pengupasan sebesar 9,1x (peningkatan mom sebesar c.50 bps; 8M23 adalah melampaui panduan perusahaan sebesar 8,6x),” terang Reggie Parengkuan dalam risetnya yang dipublikasikan pada 25 September 2023.

ADVERTISEMENT

Reggie menyebutkan, penjualan Komatsu UNTR sebesar 400 unit pada Agustus 23 (-1% mom/-32% yoy) terutama didorong oleh sektor pertambangan yang lesu.

UNTR menyebutkan, terang Reggie, bahwa penurunan di sektor pertambangan terutama didorong oleh smaller-size customers mengurangi pesanan mereka mengingat penurunan harga komoditas secara umum.

Target Harga

Lebih lanjut, Reggie menyatakan, volume penjualan batu bara termal TTA (Tuah Turangga Agung) datar pada 547 ribu ton pada bulan Agustus 2023 (flat mom/-11% yoy), sementara volume penjualan batu bara kokas turun menjadi 213 ribu ton (-13% mom/+90% yoy) sebagai tantangan logistik karena kondisi cuaca kering.

Secara kumulatif, terang Reggie, volume penjualan batu bara thermal/coking menyumbang volume penjualan 63/69% dari estimasi FY23F pihaknya. Sementara itu, volume penjualan emas menurun menjadi 10 ribu oz pada Agustus 2023 (-41% mom/-58% yoy) disebabkan oleh keterlambatan penyelesaian fasilitas penyimpanan tailing (diharapkan pada akhir FY23F).

“Kami mempertahankan estimasi FY23 kami karena angka pada 8M23 hampir sama dengan perkiraan kami,” jelas Reggie Parengkuan.

Dia menambahkan, pihaknya terus menyukai UNTR karena melihat potensi kenaikannya dari bisnis nikel baru. Indo Premier menegaskan kembali rating beli yang tidak berubah berdasarkan SOTP dengan target harga Rp 34.300. Target harga itu sekitar 21% dari harga penutupan sesi I tanggal 26 September di Rp 28.200.

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 13 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 24 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 28 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia