‘Raja Nikel’ Terpeleset, Target Harga Sahamnya Baru
JAKARTA, investor.id – PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencatatkan kerugian pada semester I-2023 atau jauh di bawah konsensus analis alias meleset. Meski demikian, saham MBMA tetap direkomendasikan beli.
Merdeka Battery membukukan rugi bersih US$ 19,7 juta pada semester I-2023 dibandingkan semester I-2022 yang meraup laba bersih US$ 33,4 juta. Padahal, dalam konsensus, ‘Raja Nikel’ tersebut diharapkan mengantongi laba masing-masing US$ 51 juta dan US$ 57 juta.
“Ini karena harga NPI (nickel pig iron) yang rendah dan biaya yang lebih tinggi dari perkiraan,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Hasan Barakwan, dalam risetnya.
Menurut dia, kerugian yang dialami Merdeka Battery terjadi, meskipun perseroan membukukan pendapatan yang kuat sebesar US$ 351 juta, melonjak 172% (yoy). Lonjakan pendapatan dipicu oleh konsolidasi setahun penuh dua smelter nikel berteknologi rotary kiln electric furnace (RKEF), yang dikelola PT Cahaya Smelter Indonesia (CSI) dan PT Bukit Smelter Indonesia (BSI). Smelter tersebut diakuisisi pada kuartal II-2022.
Selain itu, smelter baru Zhao Hui Nickel (ZHN) dan Huaneng (HNMI) yang mulai beroperasi pada Juni 2023 turut berkontribusi terhadap lonjakan pendapatan emiten berkode saham MBMA tersebut.
Dari sisi operasional, MBMA mencatatkan kinerja yang solid dengan produksi NPI sebanyak 21.238 ton pada semester I-2023 atau melejit 138,9% (yoy). Khusus kuartal II-2023, produksi perseroan mencapai 11.870 ton atau meningkat 26,7% (qoq).
Adapun volume penjualan NPI MBMA sebanyak 19.233 ton pada semester I-2023, melonjak 281,3%. Untuk kuartal II-2023 saja, penjualan mencapai 11.053 ton atau meningkat 35,3% (qoq).
Target Harga Saham MBMA
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






