Jumat, 15 Mei 2026

Data Inflasi AS Tumbuh Lebih Cepat, Rupiah Menguat

Penulis : Grace El Dora
13 Okt 2023 | 17:19 WIB
BAGIKAN
Tumpukan uang kertas rupiah pada salah satu bank di Jakarta. (Foto: ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/ss/mes/aa)
Tumpukan uang kertas rupiah pada salah satu bank di Jakarta. (Foto: ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/ss/mes/aa)

JAKARTA, investor.id – Data inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) pada September 2023 yang tumbuh lebih cepat dari perkiraan, berpotensi mempersulit keputusan kebijakan The Federal Reserve (The Fed) untuk mengendalikan kenaikan inflasi. Ini membuat rupiah menguat.

“Indeks harga konsumen (CPI) mencatat kenaikan sebesar 3,7% pada basis tahunan, laju yang sama seperti pada Agustus 2023, dan naik lebih besar dari perkiraan sebesar 0,4% month to month (MoM),” ungkap Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulis, Jakarta, Jumat (13/10).

Angka tersebut menunjukkan perbedaan dengan para ekonom yang memperkirakan angka masing-masing 3,6% dan 0,3%.

ADVERTISEMENT

Di sisi lain, data tersebut memicu ekspektasi The Fed mungkin belum selesai dengan kebijakan pengetatan moneter sehingga berpotensi menguatkan nilai tukar dolar AS. Artinya, ada kemungkinan The Fed mengendalikan inflasi dengan meningkatkan suku bunga acuan AS.

“Pasar kini memperhitungkan kemungkinan 40 persen kenaikan suku bunga pada Desember 2023 dari sebelumnya 28%,” sambung Ibrahim.

Pada penutupan perdagangan hari ini, mata uang rupiah menguat 18 poin atau 0,11% menjadi Rp 15.682 per dolar AS dari penutupan sebelumnya sebesar Rp 15.700 per dolar AS.

Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat justru melemah ke posisi Rp 15.709 dari sebelumnya Rp 15.702 per dolar AS.

Pada pembukaan perdagangan hari ini, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank melemah sebesar 0,18% atau 28 poin menjadi Rp 15.728 per dolar AS dari sebelumnya Rp 15.700 per dolar AS.

Pengamat Pasar Uang Ariston Tjendra mengatakan rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS pasca data inflasi konsumen AS pada September 2023 menunjukkan inflasi yang belum turun, yakni masih berada di posisi 3,7% seperti pada Agustus 2023.

Selain itu, data klaim tunjangan pengangguran mingguan AS yang dirilis semalam turut menunjukkan kondisi ketenagakerjaan yang masih solid. Angka klaim masih berkisar 209 ribu seperti pekan lalu.

Hasil ini dinilai mengukuhkan ekspektasi pasar bahwa suku bunga tinggi akan bertahan untuk jangka waktu yang lebih lama.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 11 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 22 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 26 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia