Potensi Besar Merdeka Copper Gold (MDKA), Target Harga Saham Masih Lebar
JAKARTA, investor.id - RHB Sekuritas melihat ada tiga katalis bagi PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) pada paruh kedua tahun ini.
Riset RHB Sekuritas yang dipublikasikan baru-baru ini menyebut bahwa ketiga katalis itu adalah volume nickel pig iron (NPI) yang lebih tinggi dari PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), anak usaha MDKA. Kemudian, kontribusi yang meningkat dari bisnis nickel matte. Dan, penjualan perdana bijih pada akhir 2023.
“Faktor-faktor ini seharusnya bisa mengimbangi kerugian yang tercatat di 1H23 (karena biaya investasi awal),” tulis riset RHB Sekuritas dikutip Rabu (18/10/2023).
RHB Sekuritas menyesuaikan FY23F pendapatan dari MDKA (dipotong 30%), dengan lebih banyak optimisme untuk FY24F (peningkatan pendapatan sebesar 45%).
RHB Sekuritas merekomendasikan maintain buy untuk saham MDKA tapi dengan target harga baru Rp 3.200, dari sebelumnya Rp 3.800. Meski demikian, target harga baru itu selisihnya masih sekitar 24% dari penutupan 17 Oktober di Rp 2.580.
RHB Sekuritas melihat penurunan pada 1H23 (kerugian bersih: US$ 49 juta) sebagai sementara. Peningkatan volume penjualan NPI yang akan didukung oleh unit smelter ketiga MBMA (di bawah Zhao Hui Nickel; dioperasikan pada Juni 2023).
Penambahan nickel matte (dari Huaneng Metal Industry; c.31k ton untuk 2H23 dan c.50k ton tahun depan) juga seharusnya meningkatkan pendapatan – MDKA ingin mencapai margin yang stabil dari kedua produk tersebut (EBITDA US$ 1.000-1.500/ton) dan memulihkan biaya awal yang dikeluarkan sebelumnya.
Tetap Solid
MDKA disebut juga akan memulai uji coba pengangkutan bijih pertamanya dari Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) pada akhir tahun ini, beserta dengan dimulainya fasilitas asam sulfat (dari proyek AIM, di bawah Merdeka Tsingshan Indonesia).
“Kami yakin dengan laju operasional MDKA akan tetap solid. Kami belum memasukkan nilai potensial dari AIM, utilitas untuk kawasan industri, dan produksi emas dari proyek Pani, yang merupakan katalis potensial di masa depan,” sebut riset RHB Sekuritas.
Sementara itu, dikutip dari website resmi MDKA dijelaskan bahwa selama puluhan tahun ke depan, Tambang SCM akan memasok bijih nikel limonit dan saprolit untuk rangkaian bisnis hilir MBM. Bijih nikel saprolit dari Tambang SCM dikirim ke tiga smelter nikel berteknologi RKEF (rotary kiln electric furnace) di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah, untuk diproses menjadi nickel pig iron (NPI).
Baca Juga:
Vale (INCO) Punya Kabar TerkiniMBM terus meningkatkan nilai produksinya. Pada Mei 2023, MBM mengakuisisi 60 persen saham PT Huaneng Metal Industry (HNMI), pabrik konverter nikel yang sudah beroperasi. HNMI akan mengkonversi NPI dari tiga smelter RKEF tersebut menjadi nickel matte.
Hasil lain Tambang SCM, yaitu bijih nikel limonit, akan dikonversi di dua pabrik HPAL (high pressure acid leach). Pabrik-pabrik ini sedang dalam tahap perencanaan dan ditargetkan beroperasi pada 2025 di Indonesia Konawe Industrial Park (IKIP), suatu kawasan industri bahan baku baterai seluas 3.500 hektare yang akan dibangun di area konsesi Tambang SCM melalui kerja sama dengan berbagai mitra usaha.
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






