Masa Depan Merdeka Battery (MBMA) Cerah, Potensi Cuan Sahamnya Menggoda
MBMA juga menandai tonggak penting dengan inisiasi pabrik RKEF ketiga (Zhao Hui Nickel smelter/ZHN) dengan kapasitas 50.000 ton NPI/tahun.
Menurut RHB Sekuritas, kapasitas itu lebih besar dari dua smelter RKEF MBMA sebelumnya, yakni Cahaya Smelter Indonesia (CSID) dan Bukit Smelter Indonesia (BSID) yang masing-masing berkapasitas 19.000 ton NPI/tahun. Sehingga output NPI menjadi 88.000 ton (FY22: 39.000 ton).
Pada akhir 1H23, sebut RHB Sekuritas, MBMA mengakuisisi 60% saham di Huaneng Metal Industry (HNMI), yang mengoperasikan fasilitas konversi untuk produksi HGNM. Saat ini produksi tahunan dari fasilitas ini adalah sekitar 30.000 ton, namun angka ini akan secara bertahap meningkat hingga sekitar 50.000 ton.
Selan itu, anak perusahaan MBMA memulai ekstraksi bijih nikel pada 1H23 ( 1,9 juta ton limonit bijih dan 0,9 juta ton bijih saprolit yang diekstraksi) tetapi tetap menyimpan timbunannya karena jalan angkut (haul road) belum siap.
MBMA secara aktif meningkatkan jalan angkut dari Tambang SCM (Sulawesi Cahaya Mineral) ke fasilitas industri yang berdekatan (Indonesia Morowali Industrial Park), tempat fasilitas RKEF MBMA berada. Slurry pipelinejuga sedang dipasang untuk menghubungkan area konsesi Tambang SCM dengan pabrik HPAL MBMA di masa depan.
RHB Sekuritas menyebut, inisiatif strategis itu akan berkontribusi pada pengurangan biaya bahan baku untuk smelter RKEF dan HPAL di masa depan.
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






