Wall Street Lagi-lagi Rontok, Tertekan Lonjakan Imbal Hasil Obligasi AS
NEW YORK, investor.id – Indeks-indeks Wall Street lagi-lagi rontok pada Jumat (20/10/2023). Tertekan lonjakan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS) 10 tahun yang mencapai 5% untuk pertama kalinya sejak 2007. Hal itu memicu kekhawatiran yang lebih luas mengenai kondisi perekonomian.
Dikutip dari CNBC internasional, S&P 500 turun 1,26% menjadi 4,224.16 dan mencatatkan penurunan minggu pertamanya dalam tiga minggu. Sedangkan Nasdaq turun 1,53% menjadi 12.983,81. Sementara itu, Dow Jones kehilangan 286.89 poin (0,86%), berakhir pada 33,127.28, terseret ke bawah oleh American Express setelah laporan pendapatan beragam.
Imbal hasil obligasi AS 10 tahun yang dijadikan patokan melampaui 5% untuk pertama kalinya dalam 16 tahun pada Kamis (19/10/2023). Tingkat yang dapat mempengaruhi perekonomian dengan menaikkan suku bunga hipotek, kartu kredit, pinjaman mobil dan banyak lagi. Hal ini menawarkan investor alternatif yang menarik selain saham.
Imbal hasil 10 tahun mencapai 5,001% pertama kalinya diperdagangkan di atas level tersebut sejak Juli 2007. Meski demikian, harga mundur dari ambang batas tersebut pada Jumat.
David Donabedian, kepala investasi CIBC Private Wealth Management, mengatakan, pasar saham memperhatikan pasar obligasi dan tidak menyukai apa yang dilihatnya. “Yield meningkat, bahkan dengan kabar yang relatif baik mengenai inflasi. Inilah alasan utama mengapa pasar saham melemah,” jelasnya.
Departemen Keuangan AS menyatakan imbal hasil obligasi 30 tahun juga mencapai titik tertinggi yang terakhir terlihat pada bulan Juli 2007. Sementara itu, tingkat suku bunga hipotek tetap 30 tahun mencapai 8% pada minggu ini, tingkat yang belum pernah terlihat sejak tahun 2000.
Bank-bank regional anjlok karena suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan kekhawatiran mengenai eksposur sektor ini terhadap surat berharga obligasi yang nilainya turun. Keuangan Daerah memimpin penurunan setelah laporan pendapatan lemah, turun lebih dari 12%. ETF Perbankan Regional SPDR S&P (KRE) kehilangan 4%.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






