Jumat, 15 Mei 2026

Wall Street Lagi-lagi Rontok, Tertekan Lonjakan Imbal Hasil Obligasi AS

Penulis : Indah Handayani
21 Okt 2023 | 05:30 WIB
BAGIKAN
Tanda jalan di dekat Bursa Efek New York di Wall Street di New York, Amerika Serikat. (FOTO: ANGELA WEISS / AFP)
Tanda jalan di dekat Bursa Efek New York di Wall Street di New York, Amerika Serikat. (FOTO: ANGELA WEISS / AFP)

NEW YORK, investor.id – Indeks-indeks Wall Street lagi-lagi rontok pada Jumat (20/10/2023). Tertekan lonjakan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS) 10 tahun yang mencapai 5% untuk pertama kalinya sejak 2007. Hal itu memicu kekhawatiran yang lebih luas mengenai kondisi perekonomian.

Dikutip dari CNBC internasional, S&P 500 turun 1,26% menjadi 4,224.16 dan mencatatkan penurunan minggu pertamanya dalam tiga minggu. Sedangkan Nasdaq turun 1,53% menjadi 12.983,81. Sementara itu, Dow Jones kehilangan 286.89 poin (0,86%), berakhir pada 33,127.28, terseret ke bawah oleh American Express  setelah laporan pendapatan beragam.

Imbal hasil obligasi AS 10 tahun yang dijadikan patokan melampaui 5% untuk pertama kalinya dalam 16 tahun pada Kamis (19/10/2023). Tingkat yang dapat mempengaruhi perekonomian dengan menaikkan suku bunga hipotek, kartu kredit, pinjaman mobil dan banyak lagi. Hal ini menawarkan investor alternatif yang menarik selain saham.

ADVERTISEMENT

Imbal hasil 10 tahun mencapai 5,001% pertama kalinya diperdagangkan di atas level tersebut sejak Juli 2007. Meski demikian, harga mundur dari ambang batas tersebut pada Jumat.

David Donabedian, kepala investasi CIBC Private Wealth Management, mengatakan, pasar saham memperhatikan pasar obligasi dan tidak menyukai apa yang dilihatnya. “Yield meningkat, bahkan dengan kabar yang relatif baik mengenai inflasi. Inilah alasan utama mengapa pasar saham melemah,” jelasnya.

Departemen Keuangan AS menyatakan imbal hasil obligasi 30 tahun juga mencapai titik tertinggi yang terakhir terlihat pada bulan Juli 2007. Sementara itu, tingkat suku bunga hipotek tetap 30 tahun mencapai 8% pada minggu ini, tingkat yang belum pernah terlihat sejak tahun 2000.

Bank-bank regional anjlok karena suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan kekhawatiran mengenai eksposur sektor ini terhadap surat berharga obligasi yang nilainya turun. Keuangan Daerah memimpin penurunan setelah laporan pendapatan lemah, turun lebih dari 12%. ETF Perbankan Regional SPDR S&P (KRE) kehilangan 4%.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 18 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 20 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 1 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia