Minyak Lesu Gara-gara Melambatnya Pertumbuhan Ekonomi di AS dan China
JAKARTA, investor.id – Harga minyak lesu hingga kembali turun kembali ke angka US$ 77,15 pada Senin (13/11/2023). Gara-gara melambatnya pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat (AS) dan China memicu kekhawatiran terhadap permintaan. Walaupun di akhir Jumat lalu harga minyak sempat naik sekitar 2%.
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, penurunan kembali terjadi disebabkan sentimen publik terkait data perlambatan ekonomi China yang kembali mengindikasikan deflasi dikhawatirkan berdampak pada melemahnya permintaan minyak. “Selain itu, juga China sebagai salah satu pembeli minyak terbesar, secara personal meminta Arab Saudi untuk mengurangi pasokan minyak hingga bulan Desember,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Senin (13/11/2023).
Tim Research and Development ICDX menambahkan, sentimen dari konsumen di AS kembali menunjukkan adanya peningkatan ekspektasi rumah tangga terhadap inflasi dalam setahun mendatang. University of Michigan merilis US Inflation Expectations naik ke level tertinggi dalam tujuh bulan menjadi 4.4% yang meningkat dari pembacaan 4.2% bulan sebelumnya.
Presiden Fed San Francisco Mary Daly pada akhir pekan lalu mengatakan bahwa kebijakan moneter berada di tempat yang baik dengan kemajuan inflasi cukup baik namun kemudian menambahkan terlalu dini untuk menyatakan kemenangan melawan inflasi. “Indeks dolar AS pada sesi pagi ini menguat ke areal 105,82,” tambah Tim Research and Development ICDX.
Sementara itu, Tim Research and Development ICDX menyebut, Irak yang merupakan bagian dari OPEC akan mengadakan pertemuan pada 26 November 2023 terkait pengurangan produksi minyak, terdapat Arab Saudi dan Rusia yang juga menyetujui kegiatan penurunan produksi minyak hingga akhir tahun. Kegiatan penurunan produksi diharapkan agar harga minyak tidak terus merosot.
Dalam pertemuan OPEC ini akan membahas tentang perjanjian antar anggota terkait pembatasan tingkat produksi. Selain itu juga anggota OPEC akan membahas strategi terkait hal hal yang akan dilakukan apabila harga minyak terus lanjut mengalami penurunan. Arab diyakini menjadi Negara pertama yang melakukan pengurangan produksi hingga kuartal I-2024.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 78,46 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 75,74 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah
Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.Ujian Berat bagi Saham BUMI
Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China
Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya
Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karatDuit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaTag Terpopuler
Terpopuler






