Jumat, 15 Mei 2026

Wall Street Lanjut Reli Berkat Mendinginnya Data Inflasi AS

Penulis : Indah Handayani
16 Nov 2023 | 05:00 WIB
BAGIKAN
ilustrasi Wall Street (FOTO: NYSE)
ilustrasi Wall Street (FOTO: NYSE)

NEW YORK, investor.id – Indeks-indeks Wall Street melanjutkan reli pada Rabu (15/11/2023). Berkat mendinginnya data inflasi AS menyusul indeks harga produsen Oktober yang turun.    

Dikutip dari CNBC internasional, S&P 500 terkerek 0,16%, ditutup pada 4.502,88. Sedangkan Nasdaq Composite naik tipis 0,07% menjadi 14.103,84. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average bertambah 163,51 poin (0,47%) menjadi 34.991,21.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun menambahkan 9 basis poin untuk diperdagangkan pada 4,537%. Setelah sebelumnya sempat berada di bawah ambang batas 4,5%.

ADVERTISEMENT

Indeks harga produsen (IHP) AS pada Oktober, yang mengukur harga grosir, turun sebesar 0,5% dan menandai penurunan bulanan terbesar sejak April 2020. Namun, tidak semua data ekonomi positif karena penjualan ritel juga menurun.

Jay Hatfield, pendiri dan CEO Infrastructure Capital Advisors, mengatakan, suku bunga adalah pendorong utama pasar saham ini, dan aktivitas hari ini masuk akal karena PPI sangat, sangat keren, seperti yang diperkirakan. “Saat ini, suku bunga sedikit lebih tinggi bukan karena IHP tetapi karena penjualan ritel sedikit lebih tinggi dibandingkan ekspektasi,” ungkapnya.

Wall Street memulai sesi yang kuat di mana S&P 500 dan Nasdaq mengalami hari terbaiknya sejak April. Keuntungan pasar tersebut terjadi setelah indeks harga konsumen tetap datar pada  Oktober, sementara konsensus Dow Jones memperkirakan sedikit peningkatan.

Sementara itu, Target melonjak hampir 18% karena hasil yang lebih baik dari perkiraan untuk kuartal ketiga. Saham perusahaan pakaian VF Corp naik 14% setelah peningkatan JPMorgan menjadi netral dari underweight.

Wall Street juga tengah memantau Washington ketika anggota parlemen berusaha menghindari penutupan pemerintah pada Selasa malam (14/11/2023). Dewan Perwakilan Rakyat mengesahkan rancangan undang-undang yang memerlukan resolusi berkelanjutan yang ‘berjenjang’.

Keputusan tersebut akan diajukan ke Senat untuk dilakukan pemungutan suara. Jika disahkan oleh anggota parlemen, undang-undang tersebut akan diserahkan kepada Presiden Joe Biden. Tanpa rancangan undang-undang pendanaan tersebut, pemerintah federal dijadwalkan akan ditutup pada akhir pekan ini.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia