Wall Street Terkerek, Didorong Penguatan Saham Sektor Teknologi
NEW YORK, investor.id – Indeks-indeks Wall Street ditutup terkerek pada Senin (21/11/2023). Bahkan, Dow Jones ditutup 200 poin lebih tinggi. Didorong penguatan saham sektor teknologi yang dipimpin oleh Microsoft dan Nvidia.
Dikutip dari CNBC internasional, Dow Jones Industrual Average naik 203,7 poin (0,58%) menjadi 35.151. Sedangkan S&P 500 bertambah 0,74% menjadi 4.547,3. Sementara itu, Nasdaq Composite meningkat 1,13% menjadi 14.284,5. Ini adalah kenaikan lima hari berturut-turut bagi S&P 500 dan Nasdaq yang sarat teknologi.
Saham Microsoft naik 2%, mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu. Setelah CEO Satya Nadella mengatakan mantan kepala OpenAI Sam Altman akan bergabung dengan raksasa teknologi itu untuk memimpin tim peneliti AI baru.
Saham pembuat chip Nvidia juga bertambah 2,3%, ditutup pada level tertinggi sepanjang masa untuk saham tersebut menjelang laporan pendapatannya pada Selasa sore (21/11/2023).
Sektor jasa teknologi dan komunikasi merupakan sektor yang memperoleh keuntungan terbesar di S&P 500, masing-masing naik 1,5% dan 1%. Palo Alto Networks melonjak 5,2% dan Intel naik 2,1%. Sementara Paramount naik 5,6%, disusul Netflix yang naik 1,8%.
Bursa saham Amerika Serikat (AS) akan tutup pada Kamis (23/11/2023) karena libur Thanksgiving. Pada Jumat (24/11/2023) juga akan menjadi hari perdagangan yang dipersingkat. Perdagangan menjelang libur Thanksgiving telah berfluktuasi dalam beberapa tahun terakhir. Namun, November masih merupakan bulan dengan kinerja terbaik untuk S&P 500, menurut Stock Traders’ Almanak.
Kenaikan pasar tetap antusias hingga akhir tahun, terutama setelah data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan yang dirilis minggu lalu menenangkan kegelisahan investor terhadap tingginya harga. Serta, memberikan indikasi harapan bahwa The Fed dapat berhenti menaikkan suku bunga. Imbal hasil juga terus menurun pada hari Senin menyusul kuatnya lelang obligasi AS 20-tahun.
“Salah satu hal yang memicu kenaikan baru-baru ini sejak akhir Oktober dan hari ini adalah penurunan sekitar setengah persen dalam imbal hasil obligasi AS, yang jelas mendukung nilai aset,” kata Tom Hainlin, ahli strategi investasi senior di Ascent Private Capital Management dari Bank AS.
Hainlin mencatat, belanja fiskal dan masalah defisit menimbulkan risiko tekanan kenaikan pada imbal hasil. “Jadi kami masih melihat volatilitas di pasar obligasi, namun sejauh ini penurunan imbal hasil benar-benar mendukung harga aset-aset berisiko tersebut, akan menjadi fokus utama kami pada 2024,” tambah Hainlin.
Wall Street juga akan mengawasi risalah rapat The Fed terbaru, yang dijadwalkan akan dirilis pada Selasa (21/11/2023).
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






