Bumi Resources (BUMI) Buka Rincian Laporan Keuangan Konsolidasi KPC
JAKARTA, investor.id – PT Bumi Resources Tbk (BUMI), perusahaan batu bara milik Grup Bakrie dan Grup Salim, membuka rincian dari ringkasan laporan keuangan konsolidasian per September 2023 yang diaudit terbatas.
Laporan keuangan ini telah mengonsolidasikan PT Kaltim Prima Coal (KPC) untuk kepentingan investor. Sedangkan laporan keuangan Bumi Resources per September 2023 sesuai PSAK 66 yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelumnya, hanya mengonsolidasikan PT Arutmin Indonesia, tanpa KPC.
Bumi Resources membukukan pendapatan sebesar US$ 4,76 miliar selama periode Januari-September 2023, turun 24% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 6,25 miliar. Beban pokok pendapatan turun 2% menjadi US$ 4,32 miliar dari US$ 4,42 miliar.
Lalu, laba bruto tergerus 76% menjadi US$ 438,8 juta dari US$ 1,83 miliar. Beban usaha berkurang 14% menjadi US$ 173,1 juta dari US$ 201,9 juta. Laba usaha terpangkas 84% menjadi US$ 265,7 juta dari US$ 1,63 miliar. Sedangkan margin usaha anjlok menjadi 5,6% dari 26,2%.
Selanjutnya, laba sebelum pajak terkikis 85% menjadi US$ 225,6 juta dari US$ 1,46 miliar. Total laba neto turun 82% menjadi US$ 147,4 juta dari US$ 819,2 juta.
Adapun total laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 84% menjadi US$ 58,3 juta dari US$ 365,5 juta.
“Penurunan drastis pendapatan per September 2023 dipicu harga batu bara yang turun tajam dibandingkan patokan harga tahun lalu, ketidakpastian pasar batu bara, serta situasi dan kondisi geopolitik dan ekonomi global,” jelas manajemen Bumi Resources dalam keterangan resmi, Kamis (30/11/2023).
Emiten berkode saham BUMI tersebut telah membayar royalti sebesar 32% dari pendapatan, lalu pajak, subsidi harga domestik, tingginya harga bahan bakar, tingginya persediaan dan produksi di India, China, dan Indonesia.
“Kendati produksi dan penjualan meningkat 5% dari tahun lalu, harga batu bara yang anjlok 28% berdampak signifikan pada kondisi pasar batu bara yang bergejolak,” jelas manajemen. Sedangkan overburden removal naik 20% menjadi 571,2 mbcm dari 475,5 mbcm.
Lebih lanjut manajemen BUMI mengungkapkan, penjualan yang meningkat ternetralisir oleh penurunan realisasi harga batu bara sebesar 28% menjadi US$ 85,2 per ton dibandingkan US$ 118,7 per ton.
“Prioritas BUMI tetap konsisten memenuhi kewajiban DMO. Sedangkan optimisasi biaya, digitalisasi, bauran energi yang akan dikerjakan, dan upaya untuk mengerjakan bauran energi, menyesuaikan produksi dengan kebutuhan pasar dan inventori yang rendah guna mengoptimalkan modal kerja menjadi prioritas utama perseroan saat ini,” papar manajemen.
Tahun ini, BUMI menargetkan volume 75-80 MT, harga jual rata-rata US$ 80-90 per ton, dan biaya kas produksi US$ 55-60 per ton.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






