Jumat, 15 Mei 2026

Emas Lanjutkan Tren Kenaikan pada 2024

Penulis : Grace El Dora
21 Des 2023 | 18:42 WIB
BAGIKAN
Batangan emas terlihat dalam gambar ilustrasi yang diambil di GSA, Wina pada 13 November 2014. (Foto: ANTARA/REUTERS/Leonhard Foeger/pri)
Batangan emas terlihat dalam gambar ilustrasi yang diambil di GSA, Wina pada 13 November 2014. (Foto: ANTARA/REUTERS/Leonhard Foeger/pri)

JAKARTA, investor.id – Tahun ini menjadi saksi terjadinya koreksi harga emas yang signifikan, dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang terus berlanjut.

Beberapa faktor seperti perdebatan mengenai plafon utang AS, kekhawatiran perbankan, dan sikap hati-hati dari The Federal Reserve (The Fed) telah memberikan dampak besar, menurut catatan dari analis DCFX Andrew Fischer.

Meskipun harga emas mencapai rekor tertinggi pada Mei 2023, fluktuasi ini menciptakan ketidakpastian terkait arah pergerakan harga emas selanjutnya.

ADVERTISEMENT

Pada pertengahan 2023 berbagai peristiwa tak terduga seperti inflasi inti AS, "soft landing" di AS, kebijakan moneter The Fed, ekspektasi inflasi, dan risiko geopolitik telah memengaruhi pergerakan emas.

Harga logam kuning ini mencapai puncak tertinggi sekitar 2.077-2.080 sebagai resistance dan terendah di kisaran 1.803,16. Koreksi harga yang berlangsung selama setahun ini menimbulkan keraguan apakah akan terjadi tren kenaikan atau penurunan.

Prospek emas pada 2024 menunjukkan XAUUSD (emas) pada 2024 akan naik cukup tinggi, karena pengaruh dari dolar AS yang cenderung akan menurun lebih lama pada 2024.

Hal ini pengaruh dari ketahanan suku bunga yang cukup lama. Dengan demikian investor akan cenderung memilih XAUUSD karena ketidakpastian terhadap perekonomian, di mana XAUUSD cenderung menjadi safe haven dan menjadi sorotan pada 2024.

Fischer memprediksikan emas berjangka akan diperdagangkan lebih tinggi dari konsensus pasar dalam waktu dekat, terutama karena statusnya sebagai aset safe haven dan faktor “ketakutan”

Faktor ketakutan ini didorong oleh meningkatnya ketidakpastian, termasuk tekanan perbankan da pendanaan, serta meningkatnya kemungkinan terjadinya resesi di AS pada tahun depan.

Selain itu, peningkatan pendapatan dan tabungan (khususnya peningkatan pendapatan dan tabungan di negara-negara berkembang seperti China dan India) menjadi faktor yang mendukung kenaikan harga emas.

Pengaruh Ekonomi AS

Beberapa faktor pendorong kenaikan harga emas melibatkan kondisi perekonomian AS. Federal Reserve memproyeksikan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS melambat menjadi 1,5% pada 2024, dengan tingkat pengangguran rata-rata sebesar 4,1%.

Prediksi penurunan inflasi yang berlangsung cukup lama, dipengaruhi oleh gagal bayar (default) utang dan mencapai batas limit utang, juga memicu investor melepas dolar AS.

Melihat ke depan hingga 2024, FOMC memproyeksikan inflasi harga belanja personal (PCE) inti akan terus membaik dan rata-rata hanya sebesar 2,6% tahun depan dan 2,3% pada 2025. Sementara itu, untuk suku bunga dana fed fund (FFR) akan turun menjadi rata-rata 3,9% pada 2025 dan 2,9% pada 2026.

Dengan mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan di atas, penurunan yang dialami dolar AS ini diprediksi akan berlangsung lama pada 2024, diprediksi untuk kenaikan yang cukup lama jelang pertengahan tahun. Sehingga meski penurunan secara garis besar, namun kenaikan masih ada hanya saja dalam jangka pendek.

Tahun depan The Fed juga berencana menahan suku bunga yang cenderung lebih lama. Ini tidak menutup kemungkinan kecenderungan 2024 dolar AS akan mengalami penurunan dan ada kenaikan terhadap emas.

Fischer juga memperkirakan 2024 masih akan diwarnai oleh ketegangan geopolitik antara AS dan China, meningkatnya risiko konflik Rusia-Ukraina, dan risiko politik dalam negeri. Pemilihan presiden dan umum di berbagai negara G20, termasuk AS, juga menjadi peristiwa penting yang memerlukan perhatian.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia