Harga Minyak Naik, Ditopang Perkiraan Kuatnya Permintaan Global
NEW YORK, investor.id - Harga minyak naik pada Kamis (18/1/2024). Hal tersebut ditopang oleh Badan Energi Internasional (IEA) yang sependapat dengan OPEC dalam memperkirakan kuatnya pertumbuhan permintaan minyak global pada 2024. Ditambah lagi, cuaca musim dingin mengganggu produksi minyak mentah Amerika Serikat (AS) dan laporan persediaan minyak mentah mingguan yang turun dalam.
Dikutip dari Reuters, pedagang minyak juga mengkhawatirkan risiko geopolitik di Timur Tengah. Pakistan melakukan serangan di wilayah Iran, menargetkan militan separatis Baluchi, kata kementerian luar negeri negara itu, dua hari setelah serangan Iran di wilayah Pakistan.
Minyak mentah berjangka Brent naik US$ 1,22 (1,6%) menjadi US$ 79,10 per barel. Sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$ 1,52 (2%) menjadi US$ 74,08.
Badan Informasi Energi AS melaporkan penurunan persediaan minyak mentah yang lebih besar dari perkiraan sebesar 2,5 juta barel dalam pekan yang berakhir 12 Januari.
“Ketakutan akan penumpukan total persediaan dalam jumlah besar belum terwujud, sehingga sedikit mendukung harga,” kata Giovanni Staunovo, analis di UBS.
Laporan bulanan IEA memperkirakan permintaan minyak akan tumbuh sebesar 1,24 juta barel per hari (bph) pada 2024, naik 180 ribu barel per hari dari proyeksi sebelumnya.
Pada Rabu (17/1/2024), Organisasi Negara-negara Penghasil Minyak (OPEC) memperkirakan pertumbuhan permintaan sebesar 2,25 juta barel per hari tahun ini, tidak berubah dari perkiraan pada Desember. Kelompok produsen tersebut juga mengatakan permintaan minyak diperkirakan akan meningkat sebesar 1,85 juta barel per hari pada 2025 menjadi 106,21 juta barel per hari.
Direktur eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan, kepada Reuters Global Markets Forum bahwa dia memperkirakan pasar minyak akan ‘nyaman dan seimbang’ pada tahun ini. Meskipun di saat yang sama ada ketegangan di Timur Tengah, meningkatnya pasokan dan melambatnya pertumbuhan permintaan.
Di AS, sekitar 40% produksi minyak di Dakota Utara tetap ditutup karena cuaca dingin ekstrem dan tantangan operasional, kata otoritas saluran pipa negara penghasil minyak utama tersebut pada Rabu (17/1/2024).
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






